Post

Sejarah Gerakan Mesionaris diDunia Islam

Kehadiran misionaris agama di negara-negara Islam merupakan satu gerakan yang kompleks dan ada kalanya berbentuk kegiatan kebudayaan yang tersembunyi. Kegiatan ini sebagian besar mendapat dukungan moral dan materil dari para kapitalis besar di barat. Dengan melihat kepada aktivitas dan kinerja mereka dalam masyarakat Islam selama beberapa dasawarsa yang lalu, banyak pengamat masalah sejarah dan politik yang menilai bahwa para misionaris ini adalah pelaksana kebijakan imperialisme dunia.
Pembahasan yang ingin kami sampaikan pada pertemuan kita kali ini ialah aktivitas misionaris di negara-negara Islam serta meninjau sejarah kedatangan, tujuan, dan metode aktivitas mereka dalam masyarakat Islam.
Aktivitas misionaris di negara-negara Islam memiliki sejarah yang panjang. Misionaris adalah sebutan untuk siapa saja yang mengemban tanggungjawab untuk menyebarkan

 kristen. Misionaris masuk ke berbagai negara dengan tujuan untuk memperkenalkan dan memperluas penyebaran akidah Kristen. Tetapi seiring dengan berlalunya zaman, mereka masuk seiring dengan invasi kaum imperialis. Dengan cara ini mereka mampu menyusup masuk dan melakukan infiltrasi di kawasan-kawasan yang telah ditaklukkan kaum imperialis tersebut. Pak, peneliti Cina dalam bukunya yang berjudul China and The West menukil ucapan Napoleon sbb:
“Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buatku di Asia, Afrika, dan Amerika karena aku akan memaksa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian mereka tidak saja melindungi mereka, bahkan juga memberi mereka kesempatan untuk menjadi mata-mataku di bidang politik dan perdagangan tanpa sepengetahuan rakyat.”
Pada awalnya aktivitas misionaris hanya bergantung pada tenaga manusia. Seiring dengan perkembangan zaman, para misionaris bergerak secara lebih sistematik dan dalam rangka mencapai tujuannya, mereka membentuk lembaga-lembaga dan organisasi. Aeten Sezar, penulis Turki mengenai hal ini menulis:
“Pada abad ke17 masehi, gereja Katolik Roma yang memiliki kekuasaan atas pemerintahan Eropa, mendirikan Kementerian Propaganda Agama di Vatikan dengan mendirikan dan mengembangkan agama kristen di dunia. Bersamaan dengan gerakan ini, sekolah propaganda agama asing telah dibangun di Paris dengan pembiayaan dari kementrian tersebut. Berbagai institusi juga telah didirikan di Jerman, Perancis, dan Belgia disertai dengan aktivitas misionaris yang berpengaruh. Dalam rangka propaganda ini pula, sekolah-sekolah baru turut didirikan untuk memberikan latihan yang lebih baik kepada misionaris.
Yang memberikan kesempatan bagi meluasnya kehadiran misionaris kristen di negara-negara timur adalah masuknya tentara imperialis di kawasan itu. Seperti yang kita ketahui bersama, aksi penjajahan Portugis dan Spanyol mendapat dukungan Paus Iskandar ke-enam pada abad ke 15 masehi. Paus memberi dukungan kepada pemerintah Spanyol dan Portugal dengan syarat kedua imperialis ini memberi jalan kepada misionaris kristen untuk masuk ke negara jajahan dan mendukung segala upaya dan aktivitas delegasi misionaris kristen dalam menyampaikan ajaran mereka kepada rakyat di sana.
Kardinal Ximenes pada tahun 1516, dalam rangka perluasan infiltrasi dan pengokohan gerakan kristen, memberi perintah supaya setiap serangan ke India Timur dan Barat haruslah diiringi oleh misionaris kristen. Adakalanya delegasi dakwah agama juga disertai oleh penemu dunia. Abdulhadi Haeri, penulis buku ‘Pertentangan pertama pemikiran Iran’ menulis :
“Langkah pertama dunia barat dalam menaklukkan bumi timur pada dasawarsa 15 masehi dilakukan oleh orang-orang Portugis. Pelopor pertama dari kaum penjajah itu adalah Henry si Pelaut. Dia juga disebut sebagai pemimpin besar kelompok Kristen. Ambisinya yang terbesar adalah menumpas umat Islam. Dia berusaha keras memperluas imperialisme portugis di timur dan melakukan kristenisasi di sana.”
Sebagian percaya bahwa sebab utama permusuhan di antara sebagian kapitalis dengan umat Islam adalah dampak dari perang salib. Karl Heinrich Bekker, orientalis dan politikus Jerman, menyebutkan bahwa permusuhan kapitalis gereja dengan Islam mempunyai sejarah yang bermula sejak zaman kemunculan Islam. Islam kemudian semakin berkembang pada abad pertengahan dan secara gradual masuk ke negara-negara berpenduduk kristen. Gairdner juga membenarkan pernyataan Bekker ini. Dia menyatakan bahwa kekuatan yang tersembunyi dalam Islam menyebabkan Eropa merasa takut dan terjadilah permusuhan antara gereja dan Islam.
Invasi dua negara imperialis Portugis dan Spanyol ini, kemudian diikuti pula oleh negara Eropa yang lain seperti Belanda, Perancis, Inggeris, dan Russia. Mereka pun turut melaksanakan kebijakan mengembangkan agama kristen dan menggunakannya sebagai sebuah faktor pendukung bagi penguasaan dan penaklukan daerah jajahan.
Selepas itu, agama Protestan juga turut melakukan aktivitas mereka di dunia timur dan memperluas agama mereka di negara-negara jajahan. Para misionaris agama Protestan yang mendapat dukungan eropa dan berbagai perusahaan mereka di timur ini memulai aktivitas mereka dengan mengkristenkan penduduk daerah jajahan.  
Proses masuknya misionaris Kristen bersama tentara imperialis Eropa ke negara-negara timur, termasuk negara-negara Islam, untuk menyampaikan ajaran agama mereka. Aktivitas dan kinerja misionaris ini bisa disebut sebagai bantuan terhadap imperialis. Kini timbul pertanyaan, faktor apakah yang menyebabkan gerakan misionaris ini bekerjasama dengan imperialisme di negara-negara Islam?
Sebagian para pakar menyebutkan bahwa akar utama kerjasama antara gerakan misionaris dengan para imperialis ialah perang salib. Salah satu periode yang amat penting dalam sejarah hubungan dunia Islam dan Kristen adalah era Perang Salib. Perang Salib dimulai pada tahun 1095 Masehi atau 489 Hijriah dan berlangsung sampai selama hampir dua abad. Jumlah perang yang terjadi selama masa itu tidaklah jelas, namun perang terbesar terjadi sepuluh kali dan di setiap perang terjadi banyak pertempuran. Di sepanjang Perang Salib, yang dimulai dengan serangan orang-orang Kristen ekstrim untuk menaklukkan Baitul Maqdis, ratusan ribu umat Islam telah terbunuh. Namun, umat Islam berhasil mempertahankan Baitul Maqdis dan tentara salib terpaksa meninggalkan Suriah, Mesir, dan kawasan muslim lainnya.
Banyak pendapat yang dikemukakan mengenai penyebab dan motivasi terjadinya Perang Salib ini. Doktor John L. Esposito, dosen universitas George Town Amerika menulis: Sebagian besar masyarakat Barat mengakui adanya kenyataan tertentu yang berhubungan dengan Perang Salib, tetapi banyak di antara mereka yang tidak mengetahui bahwa Perang Salib yang mengakibatkan korban yang amat besar ini adalah atas perintah Paus. Bagi umat Islam, kenangan atas Perang Salib merupakan satu contoh nyata dari militerisasi kristen ekstrim, sebuah kenangan yang membawa pesan bagi serangan dan imperialisme Kristen barat.
Menurut para ahli sejarah, Perang Salib adalah hasil dari kebijakan para pemimpin gereja, pemerintah Eropa, serta misionaris yang menentang Islam. Sikap tamak dan kefakiran yang melanda masyarakat Barat membuat mereka berambisi merebut kekayaan umat Islam dan inilah salah satu alasan dimulainya Perang Salib. Alasan-alasan lainnya adalah keinginan mengekspansi wilayah Eropa, timbulnya fanatisme terhadap agama, keinginan untuk menaklukkan Baitul Maqdis, serta membebaskan pemakaman suci di sana.
Perang Salib pertama dimulai di bawah pimpinan Urbanus kedua. Dengan fatwa para pendeta kristen, pasukan besar Eropa, disertai tokoh-tokoh pemerintah Eropa dan pimpinan gereja bergerak menuju Baitul Maqdis yang berlokasi di tanah pendudukan Palestina. Di sepanjang kota-kota Islam yang mereka lalui, mereka membunuhi ratusan ribu manusia, lelaki, wanita, dan anak-anak. Sejarawan terkenal Perancis, Gustav Lubon mengenai Perang Salib menulis, “Di zaman terjadinya Perang Salib, peradaban timur berada dalam tahap kegemilangannya berkat Islam. Sebaliknya, Eropa tenggelam dalam kegelapan dan kezaliman. Ada sekelompok tentara salib yang ganas. Mereka membunuh dan merampok kawan maupun lawan, kelompok sendiri maupun pasukan asing.”
Perang Salib membawa kemajuan sosial bagi masyarakat Barat. Rakyat Eropa yang saat itu berperadaban rendah, mulai mengenal kecemerlangan peradaban umat Islam dan mereka mulai mempelajari ilmu dan peradaban dari rakyat muslim. Tetapi, seperti apa yang telah ditulis oleh sejarawan terkenal bernama Twin B, “Orang-orang Kristen mengambil manfaat dari kemajuan peradaban dan kesenian umat Islam tetapi permusuhan bersejarah fanatisme Kristen dengan Islam Timur tidak pernah berkurang.”
Will Durant penulis sejarah yang terkenal, mengenai infiltrasi dua dunia, yaitu Kristen dan Islam, di sepanjang Perang Salib, menulis, “Infiltrasi dunia Kristen terhadap Islam hanya terbatas pada sebagian budaya agama dan perang, tetapi dunia Islam melakukan berbagai infiltrasi dalam dunia kristen. Sebaliknya, dari Islam, Eropa mengadopsi makanan, minuman, obat-obatan, kedokteran, persenjataan, selera dan kecenderungan seni, metode industri dan perdagangan, undang-undang, dan metode kelautan.
Di sepanjang era perang Salib dan pasca perang, terutama ketika Byzantium jatuh ke tangan umat Islam, mereka mulai merusak citra Islam dan menyajikan gambaran yang telah diubah di kalangan orang-orang Kristen. William Montgomery Watt, seorang peneliti Inggris, pernah menulis bahwa wajah Islam yang telah diubah oleh pendeta Kristen. Dalam pemikiran umat Kristen pada abad ke-12 ditanamkan penggambaran bahwa Islam itu agama pedang dan kekerasan serta Nabi Muhammad SAW adalah penentang Nabi Isa a.s. Menurut Watt, hasil dari distorsi penggambaran Islam ini berlanjut hingga abad ke-19 dalam pemikiran orang-orang Eropa. Malah, hingga saat ini, distorsi itu tetap kekal dalam pemikiran masyarakat Barat dan dampaknya masih bisa dilihat sampai hari ini. Watt juga menambahkan bahwa pembentukan gambaran buruk mengenai Islam sebagian besar merupakan reaksi umat Kristen yang melihat bahwa peradaban umat Islam di Andalus amat tinggi melampaui mereka.
Sebagian peneliti menyebutkan selain Perang Salib, alasan politik juga menjadi penyebab lain terjadinya kerjasama antara misionaris dengan imperialis. Mereka menggunakan ucapan pemimpin gereja seperti Yulius Richter sebagai dalil. Yulius telah mencerca umat Kristen yang telah membiarkan kekaisaran Byzantium secara berangsur-angsur digantikan oleh emperator Islam dan berlanjut dengan jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 ke tangan umat Islam. Para peneliti yang berpendapat seperti ini sepertinya lupa bahwa infiltrasi umat Islam di berbagai penjuru dunia muncul sebelum adanya gerakan militer. Infiltrasi ini berakar dari masalah kebudayaan dan kepercayaan.
Dari sudut ini, bisa dipahami mengapa umat Islam dalam masa yang singkat dan dengan fasilitas yang sedikit bisa memperluas kekuasaannya. Thomas V Arnold, menerangkan falsafah kemajuan Islam sebagai berikut.
“Ketika tentara Islam tiba di Jordan, orang-orang Kristen Jordan menulis surat yang isinya sbb: Wahai umat Islam, kalian lebih kami sayangi daripada orang-orang Roma, meskipun mereka seagama dengan kami, tetapi kalian berperilaku lebih mulia, lebih adil, dan lebih baik terhadap kami.”
Infiltrasi dan perkembangan Islam di Eropa, bisa disebutkan sebagai salah satu dari penyebab terjadinya kerjasama antara gerakan misionaris gereja dengan pihak imperialis. Menurut pandangan Norman Daniel dalam bukunya berjudul “Islam and the West: The making of an image”, penentangan politik dunia Kristen terhadap dunia Islam berubah menjadi satu pemikiran yang menguasai Barat. Ide ini terus tertanam dalam pikiran Barat meskipun ideologi persatuan Eropa telah hancur dan agama Kristen telah terpecah menjadi Katolik dan Protestant.Lanjut Hal 2


Post

Sejarah Gerakan Mesionaris diDunia Islam 2

Pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas Masehi, misionaris Eropa masuk ke negara-negara Islam dan memulai kegiatannya secara luas. Awalnya, gerakan ini bertujuan untuk menyebarkan pemikiran Kristen dan mengganti agama kaum muslimin. Namun, usaha mereka mengalami kegagalan. Karena itu, mereka mengganti metode penyeberluasan misi mereka. Alih-alih mengajarkan ajaran Kristen, mereka malah mempropagandakan kebudayaan Barat dan nasionalisme. Metode ini banyak dilakukan oleh misionaris asal Amerika. Berdasarkan pengakuan sebagian penulis Barat, seperti

  George Antonius, benih-benih pemikiran pertama Barat seperti penolakan agama, liberalisme, dan sekularisme secara terus-menerus ditanamkan oleh misionaris Kristen di negara-negara Islam. Tujuan mereka adalah untuk memperlemah keyakinan kaum muslimin di kawasan itu tehadap agama Islam dan mempersiapkan kondisi bagi terlaksananya imperialisme di sana. Para misionaris, dengan mendirikan sekolah-sekolah, pusat keilmuan, dan universitas, menyebarkan dasar-dasar pemikiran Barat dan dengan jalan ini mereka mempromosikan peradaban Barat di dunia Islam. .
Universitas St. Joseph di Suriah dan Universitas Amerika di Beirut dan Libanon, adalah beberapa contoh dari pusat keilmuan yang didirikan para misionaris. Tentang aktivitas dua universitas itu, J.B. Gibb dalam bukunya “Suriah, Libanon, dan Jordania” menulis, “Kedua universitas ini membuka jalan bagi masuknya pemikiran Barat ke Suriah, Libanon, dan Jordania dan unsur pemikiran baru yang terpenting yang mereka sebarkan adalah nasionalisme.” Universitas St. Joseph didirikan pada tahun 1874 Masehi, sementara Universitas Amerika di Beirut didirikan tahun 1866. Universitas St. Joseph menekankan pada pengkristenan kaum muslimin dan penyebaran kebudayaan Barat di Suriah. Sementara Universitas Amerika di Beirut yang nama awalnya adalah Sekolah Protestan Suriah, berusaha menyampaikan pahamnya dengan metode westernisasi dan liberalisasi. Universitas ini menerapkan rencananya dengan jalan menyebarluaskan materialisme, nasionalisme, dan liberalisme. Oleh karena itu, Universitas Amerika di Beirut dengan tujuan memecah-belah dunia Islam dan kaum muslimin, mempropagandakan nasionalisme Arab dan anti-Turki. .
Akibat pengajaran sistem pendidikan Barat yang dilakukan oleh kedua universitas ini dan universitas serupa lainnya yang didirikan di berbagai negara Islam, terjadi gelombang penjajahan budaya dan penindasan budaya pribumi dan juga masuknya ideologi-ideologi dan pendidikan Barat. Namun, bidang industrialisasi dan kemajuan ekonomi dan ilmu-teknologi sama sekali tidak dikembangkan di negara-negara Islam.
Joseph Szyliowicz, dalam bukunya yang berjudul Pendidikan dan Modernisasi di Timur Tengah mengakui bahwa program-program kedua universitas ini lebih banyak bermanfaat bagi Perancis dan Amerika daripada memenuhi kebutuhan masyarakat Timur Tengah. .
Pengakuan ini menjelaskan jatidiri dan tujuan yayasan pendidikan yang didirikan oleh misionaris. Yayasan-yayasan itu jelas-jelas merupakan alat propaganda dan westernisasi yang bertujuan untuk mengamankan posisi kaum imperialis. Dengan memperhatikan catatan sejarah, masuknya misionaris ke negara-negara Islam biasanya diikuti oleh para pedagang Eropa. Menyusul setelah itu, datang pula tentara-tentara Inggris, Perancis, Portugis, Belgia, dan Rusia. Setelah pemerintahan imperialis berdiri, para penjajah itu amat melindungi gerakan misionaris dengan tujuan agar penyebaran kebudayaan Barat terus berlanjut. Perlindungan ini tampak dalam berbagai bentuk materil dan moril. Contohnya, dalam masalah pendidikan, pemerintah imperialis memberikan dana yang cukup bagi pendirian berbagai yayasan oleh misionaris. Di samping itu, sistem pendidikan serta tanah air yang mereka kuasai, secara terbatas diserahkan kepada misionaris untuk dikelola. .
Salah satu tujuan sekolah-sekolah dan pusat-pusat keilmuan yang dikelola oleh misionaris adalah mendidik manusia menjadi penurut dan pendiam. Seperti misalnya di Afrika, misionaris mendidik rakyat Afrika agar tidak menentang hukum. Patrice Lumumba, ketua Gerakan Nasional Kongo, yang pernah belajar di sebuah sekolah misionaris, dalam bukunya “Hidup dan Peperanganku” menulis: .
“Tidak pernah bisa kupahami mengapa di sekolah-sekolah selalu diajarkan kepada kami agar menjaga dasar perdamaian dan kesucian Al-Masih, sementara di luar sekolah orang-orang Eropa melakukan penindasan kepada kami.” .
Di sini kita bisa menyimpulkan bahwa misionaris juga memainkan peranannya dalam menenangkan warga pribumi dan menidurkan semangat perlawanan mereka terhadap penjajah. Misionaris juga berada di balik peristiwa pembunuhan Patrice Lumumba di Katanga pada periode Musa Chumbe tahun 1961, perang dalam negeri Nigeria, juga pembangkangan dan revolusi bersenjata separatis Kristen di selatan Sudan.
Ahmad Sekou Toure, Presiden Ghana pada tahun 1983, telah mengusir semua misionaris Eropa dari negara itu. Sekou Toure adalah pemimpin perjuangan rakyat melawan penjajahan Perancis di tahun 1957. Dalam masalah pengusiran misionaris Eropa ini, dia berkata bahwa misionaris agama dan pendeta Eropa adalah musuh terbesar Afrika karena mereka melakukan kegiatan mata-mata dan perusakan.
Meskipun India bukanlah negara muslim, namun aktivitas para misionaris di sana juga patut kita cermati. Di negeri ini, para misionaris ternyata menggunakan metode lain, yaitu dengan berkedok sebagai turis. Pendeportasian seorang misionaris Amerika Joseph W. Cooper dari India memperlihatkan aktivitas ilegal kaum misionaris di kawasan barat India. .
Cooper adalah seorang misionaris Amerika yang berkunjung ke India dengan menggunakan visa turis. Tapi, ia di sana malah sibuk menyampaikan agama Kristen. Pemerintah India akhirnya memberikan dia tempo satu minggu untuk meninggalkan India. Menurut polisi India, Cooper telah melanggar undang-undang tahun 1995 pemerintah India. Berlandaskan kepada undang-undang ini, tidak dibenarkan seseorang melakukan aktivitas penyebaran agama dengan menggunakan visa turis. .
Sebenarnya, tidak ada laporan menyangkut isi ceramah misionaris Kristen di Propinsi Kerala itu. Tetapi, serangan terhadapnya oleh sekelompok extremis Hindu hingga ia cedera, memperlihatkan betapa sensitifnya ucapan Joseph W. Cooper. Untuk mencegah berlanjutnya ketegangan, sembilan orang anggota sebuah organisasi extrim Rashtriya Swayamsevak Sangh telah ditangkap. .
Pengesahan undang-undang tahun 1995 mengenai larangan aktivitas penyebaran agama bagi pengunjung yang memiliki visa turis menunjukkan bahwa kasus serupa pernah terjadi. Untuk menghalangi aktivitas misionaris agama yang menggunakan visa turis itulah akhirnya pemerintah India telah mengesahkan undang-undang ini. Dengan melihat keragaman ras, agama, dan bahasa, juga kemiskinan yang meluas, India merupakan lapangan yang potensial bagi aktivitas misionaris agama. .
Pertumbuhan penduduk secara berlebihan, juga keterbatasan sumber dana pemerintah India untuk melaksanakan program pembangunan, kesehatan, dan pendidikan, telah menyebabkan meningkatnya kemiskinan di India. Selain masalah kemiskinan, terdapat 44 persen orang dewasa di India yang buta huruf. Ini merupakan salah satu faktor pendukung maraknya aktivitas misionaris agama di negara tersebut. Dari sudut ini, yang mengkhawatirkan pemerintah India ialah pemanfaatan atas kondisi ini oleh pihak asing untuk mencapai tujuan dan kepentingan mereka. .
Salah satu metode negara asing ialah pengiriman para misionaris dengan kedok turisme. Oleh sebab itu, pemerintah India memperhatikan perilaku para turis dengan lebih teliti sehingga mereka jangan sampai berceramah masalah keagamaan. .
Aktivitas misioner di India sepanjang tahun-tahun terakhir ini telah menggerakkan sentimen orang-orang Hindu extrim dan meningkatkan kekerasan berdarah. Tampaknya sentimen atas gerakan misioner ini menjadi bertambah kuat dengan berkuasanya Partai Bharatiya Janata. Extrimis Hindu memiliki agenda pelaksanaan kebijakan Hinduisme di India dan aktivitas religius apapun yang berpotensi menyinggung agama Hindu pasti akan ditentang. .
Orang-orang Kristen yang merupakan dua persen dari satu milyar penduduk orang India, hingga kini hidup dalam keadaan damai dengan para penganut agama lain ataupun kelompok minoritas lainnya. Oleh karena itu, terdapat kekhawatiran dalam masyarakat Kristen India bahwa sebagian oknum ingin menjalankan aktivitas misionernya di bawah kedok turis, dan masalah ini bisa menyebabkan hubungan Hindu dan Kristen menjadi runcing. Menurut pandangan para pengamat politik, dengan memperhatikan kondisi ekonomi rakyat negara-negara Asia Selatan, lahan aktivitas misioner tidak saja terbatas di India. Di negara-negara lain juga aktivitas itu sangat mungkin ada. Oleh karenanya, keberhasilan aktivitas misionaris Kristen berkedok turisme di India itu akan berakibat kepada semakin merebaknya aktivitas serupa di kawasan lain. Dari sudut ini, para pengamat percaya bahwa salah satu faktor meningkatnya perang di antara kelompok di kawasan Asia Selatan termasuk India, ialah aktivitas misionaris agama. Dalam hal ini, salah satu metode adikuasa dan imperialis untuk mengembangkan infiltrasinya, ialah dengan menggunakan missionaris di perbagai kawasan dunia. Memberi hadiah dan membangun pusat yang secara lahiriah memberikan manfaat pragmatis bagi masyarakat setempat, termasuk salah satu langkah misioner di berbagai negara. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat kabar, misionaris yang telah dideportasi dari India itu sebenarnya telah bertahun-tahun keluar masuk ke negara ini. Realitas ini menyebabkan kekhawatiran pemerintah India bahwa dengan menggunakan paspor turis, Joseph W. Cooper telah mengunjungi berbagai kawasan untuk meneliti tradisi, budaya, serta kondisi sosial-politik dan kebudayaan setempat.
Sebagian organisasi India dan aktivis keagamaan menilai aktivitas misionaris Amerika di bawah kedok turisme itu dilakukan secara terorganisir. Karenanya, aktivitas agama Kristen mendapat reaksi negatif yang sangat keras. .
Karena dianggap menciptakan suasana saling curiga di antara orang-orang Hindu dan Kristen, pada tahun-tahun lalu, sejumlah gereja diserang oleh orang yang tidak dikenal. Tahun 2000 lalu, untuk pertama kalinya selepas kemerdekaan India, minoritas Kristen India merasa tidak aman. Sebagian organisasi India melihat aktivitas misioner untuk menarik orang-orang Hindu kepada agama kristen itu dilakukan dalam rangka sebuah program yang meluas dengan tujuan untuk mengubah India menjadi sebuah negara Kristen. Oleh sebab itu, Hindu extremis menentang keras kehadiran misionaris agama. .
Tahun 2000 lalu, kelompok Bajrang Dal, sebuah cabang militer Organisasi RSS meminta penganut Kristen supaya dikeluarkan dari wilayah Uttar Pradesh. Dengan demikian, yang menciptakan kekhawatiran tidak saja aktivitas agama misioner dan ruhaniawan Kristen. .
Tentu saja, sikap fanatisme ekstrim kaum Hindu di India tidak hanya mengambil korban kaum Kristen, melainkan juga umat muslim India yang telah hidup di India sejak berabad-abad yang lalu. Umat muslim India bahkan turut serta secara aktif dalam perang memperjuangkan kemerdekaan India.
Reaksi yang ditunjukkan oleh kelompok extrim Hindu di India sangatlah mengkhawatirkan. Peperangan berdarah di antara umat beragama terjadi di berbagai kawasan India. Dalam hal ini, dipastikan bahwa tidak ada satu golongan pun yang akan mendapatkan keuntungan.Lanjut Hal 3


Post

Sejarah Gerakan Mesionaris diDunia Islam 3

Para misionaris Kristen yang dikirim oleh berbagai pusat keagamaan di Barat ke berbagai negara dunia ketiga, termasuk negara-negara Islam, bekerja secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda. Sebagian dari mereka bekerja untuk menarik perhatian terhadap ajaran Al-Masih dan memberi pengajaran, sebagian untuk berdialog, dan sebagian lainnya datang untuk bekerja di pusat-pusat keilmuan dan pengajaran gereja-gereja.
Berkaitan dengan hal ini, meskipun tujuan asli mereka adalah menyebarkan agama Kristen, namun ada sekelompok misionaris datang dengan berbagai tujuan yang
 ditentukan oleh gereja dengan berkedok di balik berbagai profesi, seperti dokter, insinyur, psikolog, dosen, pedagang, dan penasehat militer. Tentu saja ada pula kelompok misionaris yang datang secara terang-terangan sebagai pendakwah resmi agama Kristen. Berdakwah di balik kedok berbagai profesi merupakan metode yang paling banyak dipakai para misionaris. Dengan cara ini, mereka bisa menyampaikan ajaran Kristen tanpa perlu memberitahukan kepada penduduk pribumi mengenai tujuan asli mereka.
Salah satu delegasi misionaris yang bisa kita jadikan bahan pembahasan adalah delegasi misionaris Inggris yang dikirim ke Uganda. Menurut buku “Century of Christiating in Uganda”, anggota delegasi misionaris itu adalah Stephan Shergoldsmith, seorang perwira angkatan laut yang menjadi ketua delegasi ini; C.T. Wilson, seorang uskup lulusan Universitas Oxford; James Collyhust, seorang arsitektur; James Robertson, seorang petani; dan John Smith, seorang dokter. Anggota-anggota lain delegasi ini berprofesi sebagai insiyur teknik sipil dan ahli mekanik. Dalam komposisi ini, bisa terlihat bahwa anggota delegasi misionaris yang berprofesi sebagai ruhaniwan hanya satu orang. Namun demikian, semua anggota delegasi itu mengambil peran sesuai dengan profesinya dalam kegiatan penyebaran agama Kristen.
Para misionaris itu, dengan menggunakan prinsip psikologis dan ilmu-ilmu lainnya, berusaha menancapkan pengaruh mereka di hati orang-orang pribumi dan dengan cara itu, mereka menyebarkan ajaran Kristen. Bahkan, di negara-negara muslim, para misionaris berusaha mempelajari ajaran Islam demi menarik perhatian penduduk pribumi. Salah satu contoh dalam hal ini adalah penggunaan ayat Al-Quran berkenaan dengan Isa Al-Masih oleh para misionaris sebagai alat untuk memperkenalkan ajaran Kristen kepada penduduk pribumi negara-negara muslim. Al-Quran menyebut Al-Masih sebagai Ruhullah atau RuhTuhan.
Para misionaris dengan menunjukkan ayat ini dan menyebut nama Quran berusaha untuk menarik perhatian penduduk pribumi. Kemudian, mereka menyampaikan pandangan Kristiani mereka berkenaan tentang Isa Al-Masih dan syafaat Al-Masih terhadap para pengikutnya. Dengan demikian, tujuan mereka untuk menyampaian ajaran Kristen dilakukan dengan cara tidak langsung dan dengan menarik kepercayaan dan keyakinan kaum pribumi.
Karakteristik lain dari delegasi misionaris ini adalah pengenalan mereka terhadap adat istiadat penduduk pribumi. Mereka mempelajari bahasa-bahasa pribumi sehingga bisa berhubungan langsung dengan penduduk pribumi. Mereka juga mempelajari kebudayaan pribumi agar bisa menarik perhatian para penduduk di sana dan kemudian memanfaatkan kelebihan dan kekurangan kebudayaan asli itu untuk menyebarkan ajaran mereka. Para misionaris dengan berdialog dan berhubungan langsung dengan penduduk pribumi dan masuk dalam kehidupan pribadi mereka, menyelami rahasia kehidupan mereka, dan memanfaatkannya demi mencapai tujuan misionarisme.
Doktor Mustafa Khaledi dan Doktor A. Farukh, penulis buku “Misionaris dan Imperialisme” dengan menyebutkan berbagai contoh alasan-alasan pengiriman misionaris ke berbagai negara muslim menyatakan bahwa tujuan para misionaris itu bukanlah perbaikan kehidupan maknawi penduduk pribumi, melainkan merusak dan menjadikan kaum muslimin berada di bawah kekuasaan mereka. Dalam salah satu bagian buku ini, disebutkan pula bahwa seorang misionaris bernama Roise di Tarablus barat pernah berkata, “Penyebaran ajaran Kristen di Tarablus sangatlah sulit. Setelah lima belas tahun berusaha, baru saya memahami bahwa satu-satunya cara untuk mengkristenkan bangsa ini adalah dengan mempengaruhi mereka dan mengubah kehidupan pribadi dan perilaku khusus mereka sehingga dengan cara ini kami bisa mencapai tujuan kami.”
Kardinal Lavigerie dan Charles De Foucauld melarang anggota delegasi misionarisnya menggunakan cara-cara langsung dalam menyebarkan ajaran Kristen, terutama bila berhadapan dengan kaum muslimin. Speer E. Robert, juga mengajarkan kepada para misionaris agar menjauhi pembahasan dan perdebatan dengan kaum muslimin dan memulai pekerjaan mereka dari poin-poin yang selaras dengan ajaran Islam. Misionaris lainnya, J.H.Bavick, menghimbau agar para misionaris berhati-hati sehingga dalam pikiran para pribumi tidak tercipta gambaran bahwa para misionaris itu menganggap peradaban dan kebudayaan mereka lebih tinggi dari kebudayaan kaum pribumi.
Masalah ini juga disinggung oleh William Montgomery Watt dalam bukunya “Muslim-Christian Encounter”. Dia menulis, “Para misionaris, sebagaimana orang Eropa lainnya, menganggap diri mereka lebih unggul daripada kaum pribumi. Dengan anggapan seperti ini, para misionaris secara gradual malah mencampuradukkan ajaran Kristen dengan keyakinan atas superioritas orang Eropa atau peradaban Barat.”
Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa kegiatan penyebaran agama menurut pandangan para misionaris adalah menciptakan perubahan dalam pikiran umum sesuai yang mereka inginkan demi tercapainya tujuan asli mereka. Dalam rangka ini, ajaran Kristen memperbolehkan mereka menggunakan cara apapun juga.
Salah satu metode penyerangan Barat terhadap kebudayaan dan berbagai ajaran slam, ialah dengan mengadakan berbagai penelitian dan penyelidikan mengenai Islam. Para misionaris merupakan peneliti Barat pertama, yang hadir di berbagai negara Islam dan melakukan penelitian mengenai Islam dan kaum muslimin. Di masa-masa lalu, motivasi terpenting para misionaris adalah motivasi agama. Sebagian besar tulisan-tulisan mereka mengenai Islam menggunakan berbagai sumber abad pertengahan dengan memperhatikan kondisi waktu itu, misalnya berbagai perang Salib, dan interaksi antara kaum muslimin dan kristen di Andalusia dan Spanyol.
Berbagai tulisan tersebut dibuat agar orang-orang Kristen Eropa berpandangan jelek terhadap Islam. Tujuan utama para misionaris pada tahun-tahun tersebut ialah untuk menjauhkan orang-orang Kristen dari pengenalan atas Islam yang sebenarnya. Para misionaris tersebut berupaya menunjukkan pandangan dan citra Islam yang negatif dan mereka menggambarkan wajah Islam yang telah tercoreng dan tidak bisa diterima dikalangan masyarakat Barat. Tentu saja, setelah terjadinya Renaisance, motivasi politik dan ekonomi telah bercampur-baur dengan motivasi agama.
Pada tahun-tahun ini, terbentuklah kelompok baru dari kalangan peneliti Barat yang disebut sebagai orientalis atau ahli ketimuran, yang secara lahiriah mengadakan penelaahan dan penelitian mengenai Islam dengan cara dan metode ilmiah. Namun, beberapa lama kemudian terbukti bahwa penelitian ini menghasilkan penulis-penulis yang menulis mengenai Islam dengan cara menyimpang dan tendensius. Mereka berusaha menciptakan keragu-raguan terhadap agama-agama samawi.
Para misionaris selalu berusaha menciptakan keragu-raguan terhadap Islam dan menghapuskan kesucian agama Ilahi ini. Mereka mengenalkan agama Islam sebagai sebuah agama duniawi yang jauh dari nuansa dan eksistensi Ilahi. Mereka menginginkan agar proses tahrif atau penyelewengan yang terjadi pada sejarah dua agama Ilahi terdahulu, yaitu Yahudi & Kristen, juga terjadi dalam sejarah agama Islam. Sebagaimana yang kita ketahui dalam sejarah Yahudi dan Kristen, tampil sebuah kelompok yang mengklaim diri sebagai pendukung utama agama. Orang-orang tersebut, meski secara lahiriah menjaga dan berpegang teguh pada risalah mereka, yaitu Taurat dan Injil, namun secara bertahap menyampaikan khutbah-khutbah yang bertentangan dengan kitab suci mereka.
Penyimpangan dalam kedua agama ini terlihat secara jelas dan bahkan diakui oleh para pemuka gereja dengan dikeluarkannya sebuah perintah dari Paus untuk membentuk sebuah komisi penyelidikan khusus guna menyusun penafsiran baru terhadap Injil. Masalah ini dilaporkan oleh berbagai kantor berita pada tahun 1993. Komisi penelitian itu menyebutkan bahwa setelah mengadakan pengkajian dan mengamatan berbagai segi terhadap berbagai versi kitab Injil, disimpulkan bahwa isi kitab tersebut tidak relevan dengan hukum-hukum Ilahi.
Surat kabar Australia “Australian” terbitan Sydney, pada tahun 1995 telah melaporkan berita bahwa Dewan Yahudi dan Kristen Australia mengusulkan penghapusan nama orang-orang Yahudi dari Injil, kemudian diganti dengan nama-nama sebagian penduduk Baitul Maqdis. Surat kabar Australia ini menulis bahwa revisi terhadap berbagai pasal Injil yang bertujuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan umat manusia dewasa ini, mendapatkan reaksi negatif dan luas dari kalangan orang-orang Kristen.
Para misionaris dengan memunculkan berbagai keraguan terhadap dengan kitab suci kaum muslimin, yakni Al-Qur’anul Karim, berusaha mengurangi nilai kesucian kitab Ilahi ini. Para misionaris ini meyakini bahwa melalui cara tersebut… yang terjadi dalam agama yahudi dan Kristen juga terjadai dalam agama Islam. Oleh karena itu, salah satu cara propaganda kelompok misionaris dan orientalis ini, berusaha agar orang-orang Islam menerima bahwa Nabi saww memiliki guru orang-orang Yahudi dan Kristen. Hal ini dinyatakan oleh David Shamuel Margoliuth, seorang dosen Univ. Oxford yang hidup antara tahun 1858 sampai 1940.
Dalam bukunya yang berjudul “Mohammad and The Rise of Islam dia menulis bahwa Jabir adalah seorang guru yang mengajar Nabi Muhammad. Lalu, setelah dia mendengar wahyu Ilahi yang disampaikan oleh nabi Muhammad, uaitu beberapa ayat dari Surat Yusuf, jabir pun akhirnya masuk Islam. Fakta yang ditulis Margoliuth ini memiliki kontradiksi. Bagaimana mungkin seseorang yang awalnya adalah guru nabi, kemudian bisa dipengaruhi oleh muridnya dan memeluk agama Islam?
Metode dakwah kaum Misionaris, selalu menyelewengkan Islam dan berupaya untuk merendahkan nilai-nilai Islam, serta menunjukkan wajah buruk Islam yang jauh dari peraban kaum muslimin. Hendry Jesp seorang propagandis AS, menyebut kaum msulimin tidak berperadaban, menulis : Islam telah memberikan pukulan yang telak terhadap kebudayaan dan peradaban manusia. Tidak bisa dilupakan bahwa dalam periode kegelapan Abad Pertengahan, dimana saat itu Eropa berada dibawah kekuasaan Gereja, sehingga tak seorang pun dapat berkata dengan Ilmu, namun kaum muslimin telah berpengalaman dan menjadi bukti sejarah, betapa mereka yang senantiasa dibawah ajaran-ajaran Islam, telah tampil menjadi pelopor pada salah satu periode berkembangnya Ilmu dan Peradaban Sejarah Ummat Manusia.
Ny. Dr. Zigrid Hunakeh seorang peneliti Jerman dalam sebuah buku yang berjudul : Kebudayaan Islam di Eropa, menyinggung berbagai kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Industry kaum Muslimin. Beliau dalam mukaddimah bukunya menulis : Meski Dunia Islam timbul di Eropa spanjang 1400 tahun, namun berbagai informasi mengenai peradaban Islam sangat sedikit mereka peroleh bila dibandingkan dengan berbagai peradaban lainnya, meski demikian kebanyakan informasi mengenainya (Islam) adalah salah…Dan ini merupakan dosa orang-orang Barat dalam sejenis penulisan sejarah, yang senantiasa mencegah menjelaskan hakikat. Para penulis sejarah Kristen sengaja melakukan penyelewengan yang serius terhadap kaum muslimin, sehingga pekerjaan-pekerjaan yang besar berupa Peradaban Islam nampak menjadi remeh dan tidak ada artinya samasekali. Bahkan para penulis sejarah yang baru, juga melakukan tekhnik meremehkan semacam ini, sekecil apapun konspirasi yang nampak mereka tutup mulut dan membiarkan hal itu terus berlanjut.
Ny. Dr. Zigrid Hunakeh dalam lanjutan pernyataannya menulis : Seseorang tidak bisa berkata apapun, dimana pada Abad-abad perengahan tetangga Eropa yang paling dekat adalah kaum Muslimin, yang selama 800 tahun menjadi pelopor Dunia Peradaban. Berkembangnya Peradaban Islam mencapai dua kali lipat Peradaban Yunani, sehingga mempengaruhi Dunia Barat. Siapa lagi yang berbicara dari kenyataannya, dan siapa pula yg disebut-sebut mengenainya dalam sejarah ?
Peneliti Jerman ini menandaskan : yang penting kita harus menyatakan jujur mengenai kebenaran Peradaban Islam. Dan sikap seseorang terhadap pembenaran yang benar, dimana masyarakat Eropa hingga saat ini tidak mampu menjadi juri yang benar, jujur dan tidak memihak, serta menyatakan hormat terhadap hal tersebut diatas, bahkan mereka menutupi kepala dan tidak menjelaskan peranan mendasar mereka dalam pembangunan Peradaban Eropa…. mereka telah merajut berbagai perangkat Peradaban. Mereka semua dengan kemampuannya berkecimpung dalam tersebut, sehingga mereka semua berhak unuk mendapatkan ucapan terima kasih.
Dengan memperhatikan aktifitas para Misionari semacam ini, nampaknya secara maksimal mereka berusaha melakukan propaganda terhadap dasar-dasar Kristen, meski mereka juga memiliki berbagai informasi terbatas mengenai ajaran-ajaran Islam dan sejarah Agama Ilahi ini, karena itu barangsiapa yang tidak mengenal cara-cara debat kaum Misionaris ini, maka pastilah tidak mengerti terhadap tujuan Delegasi-delegasi pembawa berita gembira ini.Lanjut Hal 4


Post

Sejarah Gerakan Mesionaris diDunia Islam 4

Selama bertahun-tahun, bahkan berbad-abad, dengan mengirimkan utusan mereka ke tengah-tengah masyarakat Islam. Mereka pun bahkan telah membentuk suatu lembaga yang terorganisasi dan rapi. Para misionaris telah berusaha menciptakan keraguan-raguan di tengah kaum muslim terhadap ajaran Islam. Kini, kami akan berbicara mengenai usaha misionaris yang lain, yaitu penyelewengan penerjemahan Al-Quran.
Sebagian besar dari terjemahan-terjemahan Al-Qur’an ke dalam berbagai Bahasa Eropa
 yang telah bertahun-tahun dilakukan oleh para misionaris dan kelompok orientalis, jauh dari kebenaran dan hakikat. Peneliti seperti Marakachi dari Italia, memperoleh inspirasi dalam menerjemahkan Al-Qur’an dari para misionaris. Andre Duryer (1580-1660) seorang warga Burgan Prancis telah menerbitkan sebuah terjemahan sederhana mengenai Al-Qur’an dalam bahasa Prancis dengan judul Alcoron Mahomet. Dia bekerja sebagai pedagang dan melaksanakan urusan-urusan Konsuler Prancis di negara-negara Timur. Buku Duryer ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa, dan selama masa satu abad menjadi sumber pengetahuan masyarakat Eropa terhadap Islam.
Setelah itu, muncul tokoh lain bernama Arthur John Arberry (1905-1969) seorang Inggris ahli masalah timur. Dengan menyebutkan berbagai contoh kekurangan dalam terjemahan Andre Duryer, dia menulis, “Inilah pandangan penterjemah yang tendensius, fanatik, dan memiliki keyakinan terhadap Al-Qur’an. Terjemahan Andre sangat jauh dari kebenaran dan tidak melakukan penelaahan yang mendalam.”
George Sale (1697-1736), satu lagi orang Inggris ahli masalah timur dan juga seorang penerjemah Al-Qur’an, menulis, “Selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, berbagai informasi yang diperoleh oleh masyarakat Eropa mengenai Islam dan Al-Qur’an, bersumber dari kelompok-kelompok Kristen fanatik. Dengan dasar tendensi dan dendam, mereka mengetengahkan berbagai alasan yang dibuat-buat. Sifat dan tindak tanduk kaum Muslimin yang baik, dilupakan samasekali. Namun, apabila mereka membicarakan kejelekan kaum muslimin, mereka justru menampilkan kekurangan itu sebesar gunung.
Salah satu cara yang ditempuh oleh kelompok misionaris, ialah melakukan berbagai penerjemahan Al-Qur’an ke dalam berbagai bahasa daerah secara tidak sempurna dan kurang, lalu menerbitkan dan membagi-bagikannya di antara kabilah-kabilah dan suku-suku yang jauh. Misalnya, sewaktu kelompok misionaris Kristen masuk ke Afrika, mereka langsung mencetak Injil dan terjemahan sebagian dari surat-surat Al-Qur’an. Sudah barang tentu para misionaris menterjemahkan Al-Qur’an sedemikian rupa sesuai dengan pandangan mereka, kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat. Tujuan utama kelompok misionaris ini adalah agar warga pribumi mengerti bahwa Al-Qur’an telah diselewengkan, sehingga mereka dapat membandingkan dan mengesankan sedemikian rupa bahwa Kristen lebih baik dari Islam.
Sekalipun kelompok misionaris ini telah berupaya dalam bidang tersebut, namun berbagai peristiwa sejarah dan berlalunya zaman telah menunjukkan, betapa para misionaris tersebut tidak berhasil mencapai tujuannya. Karena itulah penduduk asli Afrika tidak menggubris pernyataan dan perbuatan mereka, bahkan mereka memalingkan wajah mereka. Hasil dari perbuatan kelompok misionaris yang memutarbalikkan fakta ini adalah semakin berkembangnya Islam di Afrika. Bahkan, Islam menyebar ke benua Amerika dari Afrika. Contoh-contoh gerakan ini juga dapat dilihat di Asia. Misalnya di Libanon pendeta Kristen yang fanatik bernama Yusuf Haddad, telah menerbitkan puluhan buku Islam & Al-Qur’an yang banyak mengandung ayat-ayat yang diselewengkan.
Perlu disebutkan pula bahwa pertentangan yang ada di dunia Kristen telah melahirkan empat versi Injil yang saling berbeda, yaitu Injil Markus, Johanes, Lukas, dan Matius. Di dunia Islam, hanya terdapat satu kitab Al-Qur’anul Karim. Al-Qur’an yang hingga dewasa ini sampai ke tangan kaum muslimin adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saww. Isinya tidak berbeda dan tidak ada perubahan samasekali, baik pada ayat atau kalimat-kalimatnya. Ini adalah amanat Allah swt yang sampai kepada kita dari generasi demi generasi.
James A. Mechz, seorang wartawan surat kabar, menulis : Al-Qur’an bukan seperti Injil. Ia tertulis dalam bentuk untaian indah, tapi bukan syair, dan bukan pula sajak-sajak biasa. Isi Al-Quran dapat memberikan kenikmatan dan gelora iman kepada yang mendengarnya.
Upaya kelompok misionaris untuk mencoreng citra dan ajaran-ajaran Al-Qur’an ini, memiliki berbagai alasan yang berbeda-beda. Di antaranya adalah usaha untuk menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan ajaran Kristen, takut kehilangan kekayaan dan kedudukan di dunia, serta karena kebodohan dan fanatisme yang tidak logis. Namun demikian, ada juga orang-orang orientalis yang berusaha secara obyektif mengetahui hakikat ajaran Islam yang cemerlang ini. Misalnya dalam menghadapi orang-orang seperti Ignaz Goldziher (1850-1921) seorang Orientalis asal Hungaria, yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah ajaran tunggal, Hertwick Hirchfield mengatakan :
Sejak saat kami menemukan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber berbagai ilmu pengetahuan, tidak perlu diherankan lagi bila seluruh permasalahan yang berhubungan dengan langit dan bumi, kehidupan manusia, perdagangan, dan berbagai jenis transaksi dimuat dalam Al-Qur’an dengan sangat baik dan mengagumkan. Melalui cara inilah Al-Qur’an menghadapi berbagai masalah yang besar dan penting. Perkembangan ilmu pengetahuan yang menakjubkan yang dipelopori oleh dunia Islam yang selama 5 abad telah memberikan pengaruh positif pada dunia kemanusiaan, secara tidak langsung membuat kita berhutang budi pada dunia Islam ini.
Pada berbagai ayatnya, Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk mengajak umatnya agar memperhatikan masalah maknawi. Pada bagian lain, ayat-ayat Allah ini menyeru umat manusia untuk membantu dan berbuat baik kepada orang lain. Al-Qur’an juga menciptakan berbagai perkembangan yang besar dalam penelitian kedokteran, bahkan secara global dan tersirat memberi petunjuk kepada dunia kedokteran. Dengan alasan itulah Nabi Mohammad saww dalam menyifati Al-Qur’an, berkata, “Al-Qur’an itu secara lahiriah indah dan secara batiniah mengandung makna yang sangat dalam. Ayat-ayatnya memiliki makna yang tak akan pernah berakhir dan tidak pernah ketinggalan zaman.”
Lutfi Liqunian, seorang penulis Kristen, meyakini bahwa periode baru dalam metode misionaris telah dimulai. Dia menulis, “Eropa dalam Perang Salib menggunakan pedang, sekarang menggunakan penyebaran paham sebagai cara untuk mencapai maksud-maksudnya. Dengan Perang Salib baru ini, Eropa ingin mencapai tujuannya tanpa pertumpahan darah. Dalam usahanya ini, Eropa memanfatkan gereja, sekolah-sekolah, dan rumah sakit serta menyebarkan misionaris mereka.
Dewasa ini, penyebaran ajaran Kristen di berbagai negara, merupakan salah satu strategi politik para pemimpin negara Barat. Kerjasama antara gereja dan negara-negara Barat merupakan kerjasama bersejarah yang dimulai sejak abad pertengahan sampai pada periode kolonialisme baru. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan penyebar ajaran Kristen. David Waren, penanggung jawab Ensiklopedia Dunia Kristen, berkenaan dengan biaya propaganda misionaris di seluruh dunia, menyatakan bahwa data statistik tahun 1970 menunjukkan bahwa 70 milyar dolar telah dihabiskan unutk membiayai aktivitas misionaris pada tahun itu. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan terus akan meningkat.
Dalam dunia Kristen, terdapat banyak kelompok atau sekte yang berbeda-beda. Namun, dalam melakukan aktivitas propagandanya di seluruh dunia, kelompok-kelompok ini menghilangkan perbedaan di antara mereka dan bersatu-padu dalam kelompok yang sama. Kita bisa melihat bahwa di Afrika, misionaris Katolik dan Protestan saling berdampingan untuk menyebarkan ajaran yang sama. John B. Nas, seorang penulis Inggris dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Agama-Agama” menulis bahwa persatuan yang signifikan di antara berbagai kelompok Protestan terjadi dalam aktivitas misionaris yang memiliki kepentingan dan makna yang sangat besar. Penyebaran ajaran Kristen ke berbagai negara membuktikan bahwa perbedaan antara berbagai gereja dan kelompok Kristen sama sekali tidak memiliki hasil. Para misionaris terikat pada semua kelompok dan gereja. Mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengurusi perbedaan ini. Jika diperlukan, mereka siap untuk melupakan berbagai perbedaan yang ada di antara mereka.
Benua Afrika adalah salah satu kawasan terpenting bagi penyebaran ajaran Kristen oleh kaum misionaris. Ajaran Kristen di Afrika memiliki sejarah yang panjang. Serangan Eropa ke Afrika yang terjadi sejak akhir abad ke-15, telah membuka jalan bagi infiltrasi kaum misionaris ke benua ini. Para misionaris selama berabad-abad berada di samping tentara kolonialis di berbagai tempat di Afrika. Dalam kongres Baitul Maqdis yang dibentuk tahun 1963, semua orang Afrika peserta kongres itu menyatakan bahwa menurut pandangan rakyat Afrika, kehadiran para misionaris menghidupkan kenangan kolonialisme. Kenyataannya, di mana saja misionaris menginjakkan kaki, kolonialisme di negara itu pun segera dimulai.
Sejarah kehadiran misionaris di Afrika menjelaskan adanya kesejalanan dan kerjasama mereka dengan negara-negara penjajah. Selama perang, para misionaris memberikan bantuan yang berharga kepada pasukan penjajah. Biasanya, ketika pasukan penjajah masuk ke sebuah negara, pusat-pusat misionaris akan dijadikan pangkalan militer. Para misionaris itu kemudian akan menjadi salah satu penyuplai senjata, pasukan, dan makanan bagi para kolonialis. Selain itu, karena mereka mengenal suku-suku dan daerah-daerah, mereka akan menjadi mata-mata dan sumber informasi untuk para kolonialis.
Dalam serangan tentara Belgia ke Stanleyville, kita bisa melihat bahwa para misionaris telah menjadi penunjuk jalan bagi para tentara penjajah. Kota Stanleyville yang pada tahun 1966 diubah namanya menjadi Kisangani, adalah salah satu kota berpenduduk muslim di Kongo. Rakyat kota ini berjuang gigih menentang kehadiran pasukan Belgia. Pada tanggal 24 dan 25 September 1964, penduduk kota ini diserang habis-habisan oleh tentara Belgia yang mendapat dukungan dari tentara Amerika.
Jenderal Mike, komandan kulit putih bayaran yang dipekerjakan oleh Musa Chumbe, pemimpin pemberontak Kongo, mengutarakan kenangannya atas kejadian tersebut, sebagai berikut.
“Kami tidak mengasihani anak kecil atau orang dewasa karena ada kemungkinan bahwa setiap mereka adalah anggota gerakan kemerdekaan Kongo. Kami telah membunuh minimalnya lima ribu orang Kongo sehingga kami kemudian bisa membebaskan para tawanan kulit putih. Dalam kejadian ini, para pendeta kulit putih yang terkait dengan gerakan misionaris telah memberi kami petunjuk karena mereka mengenal kondisi daerah itu.”
Harian Observer terbitan London pada tahun 1964 memuat tulisan seorang penulis yang membahas masalah pembunuhan massal di Stanleyville. Katanya, “Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa kelompok-kelompok religius dan misionaris Kristen adalah orang-orang yang baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap rakyat Kongo. Namun, saya menyaksikan sendiri bahwa pada masa Musa Chumbe, semua misionaris di Katanga menjadi pelindung politik yang kuat Rezim Chumbe, yang pada saat itu bahkan mengumumkan perang terhadap PBB.”
Patrice Lumumba, pemimpin rakyat Kongo, juga memperhatikan masalah ini. Setelah terpilih menjadi perdana menteri, dia mengumumkan bahwa sebagian misionaris merupakan anggota resmi Angkatan Bersenjata Belgia. Oleh karena itu, dia menuntut agar para misionaris meninggalkan Kongo.
Peran seperti ini juga dilakukan oleh para misionaris di negara-negara Afrika lainnya, seperti Uganda, Nigeria, Sudan, Ghana, dan Senegal. Sebagai contoh, uskup Richard Ruzdir dengan alasan campur tangan atas urusan internal Ghana telah diusir dari negara ini.
Dengan memperhatikan kenangan pahit rakyat Afrika terhadap para misionaris, komisi penyebaran agama Kristen pada tahun-tahun terakhir ini, telah mengubah metode dan politik mereka untuk hadir di Afrika. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa metode dakwah yang paling membawa hasil adalah metode tidak langsung. Oleh karena itu, kehadiran misionaris secara fisik dalam bentuknya yang khas, tidak akan banyak menarik perhatian kaum pribumi. Dewasa ini, para misionaris mengetahui bahwa dengan wajah dan profesi yang berbeda-beda, mereka akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyebarkan paham kebudayaan mereka. Dokter, guru, insinyur, peneliti, anggota kelompok ilmuwan, dan perawat merupakan di antara profesi-profesi yang digunakan sebagai topeng oleh para misionaris. Mereka dikirim ke negara-negara tujuan untuk menyebarkan ajaran Kristen dengan tanpa menyinggung sensitivitas penduduk pribumi. Lanjut Hal 5


Post

Sejarah Gerakan Mesionaris diDunia Islam 5

John Moot, seorang misionaris Afrika dalam bukunya menulis, “Metode terang-terangan atau langsung para misionaris tidak berhasil menarik kaum muslimin untuk berpaling dari agamanya, karena baju yang digunakan oleh para misionaris hanyalah menimbulkan kebencian.” Roise, seorang misionaris lainnya juga mengkritik cara langsung gereja dalam menyebarkan ajarannya. Dia berkata, “Kami melihat sekelompok misionaris telah bertahun-tahun hidup di sebuah kota, namun mereka tidak mampu menemukan teman seorang pun.
Periode penjajahan Afrika oleh bangsa Barat memiliki dua dampak besar bagi agama Kristen. Pertama, masuknya pengaruh Kristen ke wilayah-wilayah Afrika yang belum
 disentuh oleh dakwah Islam, seperti Afrika Tengah dan Selatan. Kedua, meningkatkan semangat anak-anak kaum muslimin untuk bersekolah di sekolah-sekolah baru yang mengajarkan plajaran-pelajaran yang bersumber dari Barat. Dengan demikian, murid-murid di sekolah ini akan jauh dari ilmu-ilmu Islam. Apalagi, sekolah-sekolah Kristen tersebut telah mengajarkan huruf latin dan menyingkirkan pelajaran bahasa Arab sehingga rakyat Afrika akhirnya melalaikan peninggalan budaya dan bahasa mereka yang ditulis dalam huruf Arab.
Menurut para misionaris, pengajaran adalah cara dakwah yang paling bagus. Mereka amat mengutamakan pendidikan di kalangan anak-anak karena anak-anak memiliki kesiapan dan bakat untuk menerima pengajaran. John Moot, misionaris Amerika, juga menekankan pentingnya peran sekolah-sekolah dalam penyebaran ajaran Kristen. Dia berkata, “Kami harus mengajarkan ajaran agama kepada anak-anak. Sebelum dewasa, anak-anak itu harus kami tarik ke arah Kristen dan sebelum konsep Islam terbentuk dalam dalam jiwa anak-anak itu, jiwa mereka harus kami tundukkan.”
Dewasa ini, salah satu tujuan sekolah-sekolah dan pusat-pusat universitas yang terkait dengan misionaris adalah mendidik orang-orang yang kelak akan berpengaruh dalam pemerintahan dan bisa menjadi pemimpin di negara mereka. Adalah jelas bahwa misionaris akan mudah mencapai tujuannya bila yang digarapnya adalah orang-orang yang pernah mendapat pendidikan di sekolah-sekolah Kristen. Buktinya bisa kita lihat pada negara-negara Afrika, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Ketika di antara tahun-tahun 1950-1970, negara-negara itu mencapai kemerdekaannya, tiba-tiba mereka mendapati bahwa presiden mereka ternyata seorang Kristen.
Kegagalan dalam menjalankan program pembangunan, kekeringan, kelaparan, dan utang yang sangat banyak yang dimiliki negara-ngara Afrika telah makin mempermudah masuknya pengaruh misionaris di negara-negara itu karena mereka mendapat perlindungan dana yang sangat luas dari negara-ngara barat.
Penyebaran ajaran Injil yang meluas dan dilakukan secara gratis di tengah masyarakat, propaganda dan penyebaran budaya sekularisme Barat, dan perluasan ajaran barat secara sangat luas merupakan beberapa metode misionaris di Afrika.
Metode lain yang dipakai para misionaris adalah pelayanan kedokteran dan kesehatan. Para dokter memberikan dukungan yang amat besar bagi gerakan misionarsi dalam mencapai tujuannya. Menurut mereka, di manapun manusia di dunia ini, orang yang sakit akan selalu ada dan orang sakit akan selalu memerlukan dokter. Di manapun ada kebutuhan terhadap dokter, di sanalah ada kesempatan untuk menyebarkan ajaran agama.
Di Afrika banyak terdapat rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan yang dikelola para misionaris Kristen. Meskipun kaum misionaris mengatakan bahwa tujuan dari kegiatannya ini tidak lebih dari pemberian pertolongan kepada masyarakat, akan tetapi, di sebagian kawasan, para misionaris itu tanpa tedeng aling-aling menerangkan secara jelas tujuan asli kegiatan mereka itu. Mungkin hal ini didasari oleh pandangan mereka yang terlalu menganggap bodoh masyarakat pribumi.
Kondisi seperti ini tercatat dengan jelas pada sebuah buku berjudul “Christian Workers”. Contohnya adalah pada beberapa kawasan di Sudan. Di sana, ketika tengah mengobati para pasiennya, para dokter Kristen memulai aktivitas pengobatannya dengan meminta penyembuhan dari Al-Masih. Sejumlah dokter Kristen di kawasan Nasser bahkan secara terang-terangan memberikan syarat pengobatan kepada pasiennya berupa kesediaan para pasien untuk mengakui bahwa yang akan menyembuhkannya itu adalah Al-Masih.
Tanggal 20 Mei 2002 lalu, dua orang dosen universitas telah menulis surat pada redaksi majalah New York Times. Mereka menulis bahwa dalam kunjungan mereka ke Afrika Selatan, keduanya berkenalan dengan sejumlah besar misionaris Kristen yang mengaku datang ke sana membawa misi memerangi kefakiran dan penyakit AIDS. Akan tetapi, setelah beberapa kali berkomunikasi, kedua dosen itu menyadari bahwa tujuan asli kaum misionaris itu sama sekali bukan pertolongan terhadap masyarakat Afrika, melainkan secara prkatis mereka ingin mendirikan gereja yang besar untuk kemudian mengkristenkan warga pribumi. Koran New York Times juga menulis kesaksian kedua dosen itu bahwa para misionaris itu mengabaikan warga setempat dalam pendidikan cara-cara memerangi AIDS.
Para misionaris yang dikirim ke negara-negara Afrika umumnya dilatih untuk bisa menghormati seluruh adat dan budaya Islami yang dianut oleh masyarakat setempat dengan tujuan agar mereka bisa menarik perhatian masyarakat pribumi. Ketertarikan kaum pribumi terhadap para misionaris itu akan sangat memudahkan para misionaris dalam menyebarkan ajaran Kristen.
Contohnya, di Afrika, mereka menyebarkan ajaran melalui berbagai cerita rakyat yang tersebar di berbagai suku Afrika, akan tetapi, isi cerita rakyat yang awalnya berupa pesan khusus dari budaya masyarakat setempat itu, mereka ubah sesuai dengan tujuan misionaris mereka. Terkadang, kita bisa menyaksikan bahwa di beberapa kawasan Afrika, nyanyian-nyayian gereja mendapatkan inspirasi dari lagu-lagu rakyat. Contoh yang terkenal adalah lagu “Bambu” yang awalnya menggambarkan fase terakhir dari kedewasaan seorang pemuda Afrika, sekarang memiliki makna yang berbeda ketika dinyanyikan pada ritus-ritus gereja.
Lagu tersebut kini dimaknai sebagai masuknya seseorang kepada agama Kristen. Atau misalnya, pada hari Minggu, di beberapa kota Afrika para misonaris Kristen bersama-sama dengan orang-orang Kristen pribumi mengenakan pakaian kebesaran suku setempat dan dengan pakaian itulah mereka melakukan ritus keagamaan di gereja sambil memukul gendang menyanyikan lagu dan menari secara bersama-sama.Lanjut Hal 6


Post

Sejarah Gerakan Mesionaris diDunia Islam 6

Para misionaris ketika memasuki benua Afrika menemukan fakta yang mengejutkan yaitu sedemikian luasnya pengaruh Islam di benua ini. Penyebaran Islam di Afrika tidak dilakukan secara sistematis oleh kaum muslimin dan para muballigh Islam. Politik kolonialisme dan penjajahan terhadap berbagai wilayah Afrika oleh Belgia, Portugis, Perancis, dan Inggris dalam waktu yang sangat lama memberikan kesempatan yang luas bagi para misionaris untuk menyebarkan ajaran Kristen di benua ini.
Menyusul ucapan Paus pada akhir tahun 1960-an bahwa “dunia secara menyeluruh harus menjadi Kristen”, serangan para misionaris terhadap berbagai agama lain, terutama
 Islam, muncul dalam bermacam-macam bentuk. Dengan mengadakan berbagai konferensi, yayasan, organisasi, dan lembaga keagamaan di berbagai negara, para misionaris melakukan aktivitasnya secara amat luas di berbagai lapisan masyarakat. Yayasan-yayasan ini, setiap tahun membagi-bagikan ratusan ribu Injil, buku-buku, dan majalah secara gratis untuk menyebarkan pemikiran Kristen di tengah pemuda dan remaja dan berbagai lapisan masyarakat lainnya. Yayasan-yayasan ini memanfaatkan penulis, psikolog, dan spesialis lain yang terkemuka agar isi tulisan, warna, gambar dan desain grafis jilid buku, serta foto-foto bisa menarik perhatian pembaca.
Yayasan Emier merupakan salah satu contoh dari yayasan misionaris yang bertujuan utnuk memukul Islam. Yayasan ini memilki 13 penerbitan dan salah satu aktivitasnya adalah menerbitkan buku dengan gambar-gambar yang menarik bagi anak-anak. Yayasan “Amalur-rab” adalah contoh lain yayasan misionaris, yang memiliki ribuan pegawai profesional di berbagai bidang. Yayasan yang didirikan tahun 1928 dan didukung oleh Paus Johannes Paulus Kedua ini, juga bergerak di bidang politik. Di berbagai negara, yayasan ini melakukan mata-mata dan melakukan campur tangan dalam urusan pemerintahan.
Penerbitan Injil dalam bahasa lokal merupakan salah satu kegiatan yayasan-yasan misionaris. Seorang ustad muslim di negara Pantai Gading Afrika menceritakan bahwa suatu hari di desanya dia didatangi oleh sekelompok pendeta yang meminta dia mengajarkan bahasa tradisional, dan tidak lagi mengajarkan bahasa Perancis atau Arab demi menjaga bahasa asli desa itu. Ustad muslim itu dengan cerdas mengetahui tujuan sesungguhnya para pendeta tersebut.
Ustad muslim itu kemudian berkata keapda para pendeta tersebut, “Tujuan Anda untuk meminta saya mengajar bahasa tradisional kepada masyarakat adalah karena Anda sudah menerjemahkan Injil ke dalam bahasa asli kami dan Anda ingin agar pemikiran Kristen disebarkan kepada masyarakat dengan mudah. Sayang sekali Quran sangat sedikit diterjemahkan ke dalam bahasa asli dan karena itu Anda meminta saya untuk tidak mengajarkan bahasa Arab, karena itu akan membuat masyarakat lebh memahami Quran dan bila mereka sudah memahami Quran, mereka tidak akan mendengarkan perkataan Anda.”
Berkenaan dengan masalah penggunaan fasilitas canggih oleh para misionaris untuk menyebarkan pemikiran mereka, Doktor Zainab Abdul Aziz dalam pidatonya dalam Konferensi Toleransi Islam di Casablanca, Maroko, yang berjudul “Perluasan Propaganda Kristen dan Pentingnya Kewaspadaan Dunia Islam” berkata, “ Pada tahun 1990, di kota Brussel didirikan sebuah universitas bernama Penyebaran Kristen. Universitas ini memiliki pengajar-pengajar dari kalangan jurnalis dan pembicara terkemuka yang mahir dalam menyampaikan ilmu agama dan pengajaran gereja. Mereka bertujuan untuk mendidik para misionaris. Di antara perlengkapan canggih yang dimiliki universitas ini adalah satelit Luman 2000 yang bertujuan untuk menyebarkan terjemahan Injil dalam berbagai bahasa ke seluruh penjuru dunia sehingga bisa ditangkap oleh pesawat radio. Negara-negara seperti Sudan, Kenya, dan Uganda dengan mudah bisa menangkap siaran radio berisi terjemahan Injil ini dengan kualitas suara yang sangat bagus. Satelit ini dioperasikan dengan bekerjasama dengan Vatikan dan pejabat kota Dallas Amerika. Tanzania, sebuah negara di timur Afrika yang lebih dari 60 persen penduduknya muslim, kekuatan politiknya lebih banyak berada di tangan orang-orang Kristen yang populasinya hanya 30 persen. Kaum Kristiani di negara ini memiliki aktvitas yang sangat luas, mulai dari radio, televisi, sampai internet untuk menyebarluaskan kebudayaan kristen di tengah masyarakat Tanzania. Sejumlah 6000 pendeta kristen di puluhan gereja melakukan aktivitasnya di negara ini. Mereka, sebagaimana juga di negara-negara Afrika lainnya, memanfaatkan tokoh-tokoh politik Tanzania untuk menyebarkan pemikirannya. Meskipun mereka menyatakan tidak campur tangan dalam urusan politik dalam negeri Tanzania, namun kenyataannya, dalam pemilu presiden, Dewan Gereja bahkan secara resmi menyampaikan pesan lewat radio dan koran mengenai keistimewaan seorang presiden. Aksi penguasaan terhadap sendi-sendi sebuah negara merupakan salah satu metode para misionaris untuk menyebarkan ajaran mereka. Pendeta Peel, seorang pejabat gerakan misionaris di Afrika timur, pernah mengatakan, “Tidak boleh ada negara Kristen yang memperbolehkan agama Kristen diperlakukan sama seperti agama-agama lainnya. Agama Kristen harus dikenalkan sebagai agama superior. Sebuah pemerintahan Kristen haruslah menunjukkan kinerjanya hingga masyarakat merasakan bahwa mereka yang pernah mengecap pendidikan kerohanian Kristen ini memiliki nilai yang lebih dibandingkan dengan orang lain dalam pekerjaan di pemerintahnya.”
Akan tetapi, meskipun telah dilakukan upaya yang sangat luas oleh para misionaris Kristen di Afrika serta telah digunakannya berbagai fasilitas dan keuangan yang sangat banyak dalam program misionaris itu, kenyataan menunjukkan bahwa kelompok-kelompok penyebaran agama Kristen itu tidak pernah mampu mencapai tujuan-tujuan mereka. Sebuah majalah AS “Life” pernah menulis sebagai berikut.
“Di Afrika meskipun kaum misionaris yang jumlahnya tak terhingga telah melakukan berbagai program penyebaran agama, dan untuk itu telah dikeluarkan dana yang tidak terhingga, mereka hanya mampu mengkristenkan satu berbanding 10 orang Afrika yang masuk Islam. Padahal, Islam hingga kini tidak pernah mengirimkan satupun kelompok penyebar agama secara resmi ke tempat manapun di dunia. Umat Islam juga tidak pernah mendirikan rumah sakit, masjid, dan pusat pendidikan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran mereka.”
Surat kabar New York Times pernah menulis laporan yang berisi sebagai berikut.:
“Organisasi Amerika yang bernama Pendeta-Pendeta Kristen Internasional yang bermarkas di Indianapolis telah mendidik lebih dari 4500 misionaris yang bertujuan untuk mengkristenkan kaum muslimin di berbagai negara dunia. Organisasi ini meningkatkan aktivitasnya setelah kejadian 11 September. Masa penugasan para pendeta misionaris tersebut adalah enam tahun.”
Selama beberapa tahun terakhir, gerakan misionaris telah menghabiskan dana yang sangat besar untuk menyampaikan ajaran mereka demi melawan Islam. Dengan mendirikan berbagai pusat dan yayasan propaganda, mereka berusaha untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran Kristen di berbagai penjuru dunia. Di antara negara-negara dunia, negara-negara Afrika memiliki tempat yang khusus dalam pandangan para misionaris. Kunjungan para pejabat tinggi gereja seperti Paus, ke benua Afrika selama dua dekade terakhir ini membuktikan posisi khusus tersebut.
Untuk menyebarkan ajaran Kristen ke negara-negara dunia, para misionaris melakukan berbagai usaha. Salah di antara metode yang mereka pakaiadalah mengubah pengajaran Kristen dan menyesuaikannya dengan kebudayaan masyarakat pribumi. Metode seperti ini diungkapkan dalam sebuah buku berjudul “Re-thinking Mission” dan dianggap sebagai sesuatu hal yang diperbolehkan dalam penyebaran Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1932 oleh sebuah yayasan misionaris. Menurut buku ini, propaganda Kristen harus terus dilakukan, namun metode-metodenya harus diubah agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Contoh pelaksanaan metode ini adalah mengenai masalah perkawinan. Sebagian mazhab Kristen di Eropa hanya mengizinkan monogami dan tidak memperbolehkan percraian. Namun, di Afrika, mazhab Kristen tersebut mengubah ajaran mereka dengan mengizinkan kaum pribumi Afrika untuk menikahi lebih dari satu perempuan dan melakukan perceraian.
Lebih jauh lagi, para misionaris bahkan mengubah wajah Isa Al-Masih. Selama ini, Isa Al-Masih di Eropa digambarkan sebagai seorang kulit putih dan berambut pirang panjang. Namun, demi menyesuaikan dengan kebudayaan Afrika, di negara-negara Afrika mereka menggambarkan bahwa Isa Al-Masih seorang Ethiopia berkulit hitam dan berambut keriting.
Para misionaris dengan berbagai alasan, di antaranya ketakutan mendalam atas meluasnya pengaruh Islam di benua Afrika, memiliki dendam yang mendalam terhadap Islam dan kaum muslimin. Rasa dendam itu dimunculkan dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, mereka menggerakkan pribumi Kristen Afrika untuk memerangi kaum muslimin, sebagaimana terjadi di Uganda, Malawi, dan Tanzania. Dalam majalah dan buku-buku yang mereka terbitkan, mereka menggambarkan Islam dengan buruk demi. Sebagai contoh, majalah Vision edisi Mei 1986, pada halaman pertamanya memasang foto Isa Al-Masih yang berwajah tenang dan melambaikan tangan penuh cinta yang disandingkan dengan foto seorang ruhaniwan muslim yang bertampang marah dan memegang sebilah pedang. Foto-foto yang diberi judul “Isa Al-Masih dan Islam” ini bertujuan untuk menanamkan gambaran dalam pikiran para pembaca bahwa Islam adalah agama yang kasar dan sebaliknya, Krisen adalah agama yang membawa perdamaian.
Nigeria adalah sebuah negara di bagian barat Afrika dan merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di Afrika. Rakyat Nigeria, setelah berjuang dalam waktu lama untuk melawan para penjajah, akhirnya pada tahun 1960 berhasil meraih kemrdekaannya. Menurut catatan sejarah, Islam masuk ke negara ini sejak abad ke-8 melalui jalan perdagangan dan Islam berkembang pesat di utara negara ini. Pada tahun 1553, penjajah Inggris masuk ke negara ini bersama-sama dengan kelompok misionaris. Para misionaris inilah yang menjadi pelaksana politik Inggris di Nigeria. Lugard, penguasa Inggris di Nigeria, didampingi seorang misionaris bernama Miller merupakan pelaksana utama politik pengajaran kolonialis di negara ini.
Politik pengajaran Inggris di Nigeria memiliki tujuan-tujuan misionaris dan propaganda. Ketua kelompok misionaris Inggris menulis, “Kami sejak saat ini menggunakan Injil sebagai salah satu buku pelajaran. Beberapa bagian di ntaranya yang telah dipilih secara cermat, dijadikan bahan untuk latihan menulis para pelajar. Kami berpikir bahwa ini adalah kesempatan propaganda yang sangat bagus.”
Aktivitas kelompok misionaris di urusan politik juga sangat besar. Ketika rakyat muslim dan pejuang Nigeria berhasil meraih kemerdekaan dari Inggris dan mendirikan pemerintahan, pasukan Inggris dengan pertolongan para misionaris mendalangi kudeta dan membunuh beberapa pemimpin muslim, di antaranya Tafawa Balewe dan Ahmad Bello. Kudeta ini dilakukan oleh lima perwira Kristen dari kabilah Eibo yang diketuai
Jenderal Aguiyi Ironsi. Dalam sebuah majalah bulanan terbitan London tahun 1966, ditulis mengenai terbunuhnya para pemimpin muslim Nigeria ini. Menurut majalah tersebut, “Kejadian ini diperlukan agar dapat menghalangi pengaruh kaum muslim di utara yang semakin hari semakin meningkat.”
Dalam buku “Nigeria Tahun 1966” yang diterbitkan di Lagos, ibu kota negara ini, tertulis, “Sejarah masa lalu dengan jelas menunjukkan bahwa ketika Nigeria yang memiliki penduduk mayoritas muslim mendirikan negara federal dengan pemerintahan pusat di Lagos, situasi negara berjalan dengan baik. Tetapi, keinginan orang-orang Eibo Kristen untuk memimpin kaum muslimin dan untuk membalas dendam secara kejam terhadap para pemimpin muslim, membuat kepentingan negara dikorbankan oleh ambisi-ambisi yang tidak pada tempatnya dan nafsu balas dendam kaum minoritas Kristen.”
Setelah terbunuhnya Jenderal Ironsi dalam pelarian, Ojukwu, komandan militer provinsi timur Nigeria yang berpenduduk mayoritas Kristen, mengumumkan kemerdekaan daerah tersebut dan mendirikan negara baru yang bernama Biafra. Tindakan ini, menurut media massa Barat, mendapat perlindungan dari negara-negara Barat dan Vatikan karena keberadaan sumber minyak di provinsi tersebut.
Ketika akhirnya Biafra berhasil dijatuhkan oleh pemerintahan pusat Nigeria, di antara para pemberontak yang tertangkap ditemukan 150 ruhaniwan Kristen. Pemerintahan pusat Nigeria kemudian mengusir keluar para misionaris tersebut yang di antaranya warga negara Selandia Baru.Lanjut Hal 7


Post

Sejarah Gerakan Mesionaris diDunia Islam 7

Pidato seorang misionaris bernama W.H.T.Gairdner yang kami ambil dari buku “Konferensi Misionaris Dunia, Misi dan Pemerintah” terbitan tahun 1910 yang berisi kumpulan pidato, laporan, diskusi, dan program-program misionaris.
Gairdner dalam Konferensi Misionaris Dunia menyatakan secara terang-terangan bahwa infiltrasi terhadap negara-negara Islam sangat diperlukan untuk mempercepat kristenisasi di sana. Kepada para misionaris yang hadir dalam konferensi itu, Gairdner menyatakan, “Masalah Islam tidak bisa kita abaikan begitu saja. Pertama,
 karena Islam telah mendekati pintu gerbang kita. Islam dari telah hadir dari Afrika Utara hingga Eropa. Pada dasarnya, bisa dikatakan bahwa Islam bergerak dari dua arah laut Mediterania. Kedua, karena Islam adalah masalah besar bagi kita. Islam bagaikan gunung yang kukuh yang berdiri di tengah-tengah kaum Kristen di Barat dan penyembah berhala di Timur.
Saya ingin mengingatkan bahwa meskipun jika masalah kita di Jepang, Manchuria, China, dan India bisa kita selesaikan dan krisis yang terjadi dengan mereka dewasa ini secara baik bisa kita atasi, tembok penghalang yang tinggi ini, yaitu Islam, masih tetap berdiri dan memisahkan kaum Kristiani di Barat dan Timur. Oleh karena itu, usaha untuk menyingkirkan penghalang ini tidak bisa kita tunda esok hari.
Gardner berkali-kali secara implisit, dengan menyebutkan bahwa Islam adalah musuh, menyatakan bahwa para misionaris harus menggunakan berbagai cara dalam menghadapi Islam. Dalam pidatonya itu, dia juga menyebutkan berbagai negara dan masyarakat muslim, salah satunya adalah Afrika. Menurut Gardner, “ Islam di bagian timur Afrika hingga Kamerun dan bagian barat Afrika hingga Nigeria, telah melakukan kemajuan. Saya berharap semua misionaris di Afrika Barat melakukan usaha maksimal demi mengkristenkan kaum muslimim. Dengan adanya musuh kita, yaitu Islam, kita harus mempersatukan diri. Kita harus membuat satu program bersama yang ...
Dalam upaya pengkristenan dunia, delegasi misionaris Afrika hingga kini melakukan berbagai tipuan agar mampu meraih posisi di antara rakyat pribumi Afrika. Salah satu di antara tipuan para misionaris adalah dengan memperkenalkan orang-orang yang mengaku semula muslim lalu berpindah ke agama Kristen. Beberapa tahun yang lalu, seorang pemuda bernama Buttuwil Mina muncul di televisi Zimbabwe. Dia menyatakan diri sebagai seorang muslim yang berpindah ke agama Kristen. Setelah beberapa lama, terungkap kenyataan bahwa dia tidak pernah menganut Islam, melainkan seorang pendeta yang selama lima tahun belajar agama di Kenya.
Dengan menelaah metode-metode penyebaran ajaran Kristen, terlihat juga bahwa para misionaris menggunakan gadis-gadis untuk menarik pemuda-pemuda muslim. Dalam buku “Mission and Imperialism” tertulis sebagai berikut. “Kaum perempuan dalam pandangan para misionaris memiliki peranan yang sangat besar untuk mencapai tujuan mereka. Sebagian misionaris berkeyakinan bahwa delegasi misionaris harus berusaha menyampaikan ajaran mereka di tengah kaum perempuan muslim karena perempuan adalah alat yang paling penting untuk mengkristenkan sebuah negara muslim dengan segera. Perempuan adalah poros kehidupan sosial. Dengan memanfaatkan mereka, para misionaris bisa melakukan infiltrasi ke berbagai lapisan sosial masyarakat. Oleh karena itu, didirikan pusat-pusat pendidikan misionaris khusus untuk mendidik perempuan sesuai dengan ajaran Kristen.”
Sebagian pusat-pusat pendidikan ini secara langsung mendidik kaum perempuan, termasuk gadis-gadis remaja, untuk menjadi misionaris. Beberapa di antara pusat pendidikan itu berkedok yayasan pendidikan seni dan kerajinan tangan kaum perempuan. Kepada kaum perempuan yang bergabung dengan yayasan tersebut secara tidak langsung diajarkan nilai-nilai Kristiani.
Adanya penanaman modal organisasi-organisai misionaris dalam kegiatan misionaris perempuan juga bisa kita tangkap dari pidato Henry Jesups, seorang misionaris Amerika yang selama ini berupaya mengkristenkan Timur Tengah. Mengenai sebuah lembaga pendidikan kaum perempuan di Beirut, Jesup berkata, “Lembaga pendidikan ini adalah prioritas saya. Lembaga ini kami buka untuk mendidik para perempuan dan dengan ini kami memberikan perhatian kepada dunia misionaris.”
Salah satu di antara negara Afrika yang dijadikan ladang aktivitas para misionaris adalah Guinea. Delegasi misionaris datang ke negara ini pada akhir abad ke-19 dan mendirikan puluhan gereja serta pusat penyebaran ajaran Kristen. Namun, mereka tetap tidak berhasil menarik perhatian rakyat Guinea. Hingga kini, penduduk muslim di Guinea tetap mayoritas, yaitu lebih dari 95 %. Padahal, para misionaris telah melakukan usaha infiltrasi dan memiliki kekuatan yang besar. Mereka juga melakukan aktivitas politik yang luas. Ketika Ahmad Sekou Toure naik sebagai presiden setelah kemerdekaan negara ini pada tanggal 2 Oktober 1958, dia mengusir semua pendeta kulit putih Katolik dan Protestan dari Guinea dan menyatakan, “Mereka dengan berkedok pendeta melakukan operasi mata-mata dan melakukan kerusakan.”
Setelah kematian Sekou Toure pada tahun 1984 yang diikuti oleh kebangkitan militer Guinea, para misionaris kembali melakukan aktivitasnya di negara itu. Dengan melakukan infiltrasi terhadap pemerintah, mereka mengubah sistem pendidikan Guinea dan mengubah Kementerian Urusan Islam yang dibentuk semasa pemerintahan Sekou Toure menjadi Kementrian Urusan Religius. Dengan disahkannya hukum revisi UUD Guinea pada tahun 1991, para misionaris melalui politikus-politiku Kristen berusaha menngambil posisi penting dalam kabinet kementrian. Meskipun 95 persen rakyat Guinea adalah muslim, namun para misionaris bebas melakukan penyebaran ajaran Kriaten melalu radio dan televisi. Mereka umumnya melakukan aktivitas dengan berkedok sebagai organisasi non pemerintah Amerika. Desa-desa merupakan daerah yang terpenting bagi mereka untuk melaksanakan misi penyebaran Kristen di Guinea.
Menyusul keruntuhan Uni Soviet dan kemerdekaan negara-negara Asia Tengah, puluhan kelompok misionaris atas dukungan negara-negara Eropa dan Amerika dikirimkan ke wilayah ini. Pada pertemuan kita kali ini, kami akan membahas kegiatan para misionaris di Azerbaijan. Selamat mengikuti.
Secara umum, metode yang dipakai delegasi misionaris di Azerbaijan sama dengan metode mereka di Afrika. Mereka memanfaatkan situasi sosial-ekonomi yang buruk di negara tempat mereka bertugas dan dengan berbagai cara mereka berusaha melakukan berbagai infiltrasi di tengah masyarakat. Kemiskinan dan kesulitan ekonomi dan sosial di negar-negara yang baru merdeka seperti Azarbaijan merupakan kondisi yang cocok bagi para misionaris untuk melaksanakan misi mereka. Para misionaris itu mendapat dukungan dana yang besar dan perlindungan politik dari negara-negara Barat, seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman, dan Belgia.
Misionaris Barat ini berusaha menyembunyikan tujuan politik dan budaya mereka dengan cara mendirikan berbagai organisasi. Mereka menampakkan kepada masyarakat bahwa tujuan mereka adalah menolong kemanusiaan. Namun, karena kebutuhan ekonomi rakyat Azerbaijan, mereka juga melakukan pemaksaan. Misalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebuah organisasi bantuan kemanusiaan bernama Adra.
Harian Musawat Nawin, terbitan Baku, mengenai organisasi ini menulis, meskipun sudah jelas bahwa organisasi ini adalah sebuah gerakan misionaris yang disponsori Amerika, namun para pejabatnya menyangkal kenyataan tersebut. Ketika pejabat Azerbaijan mengumumkan bahwa organisasi ini adalah sebuah lembaga misionaris Amerika, pemimpinnya, Vaksun malah menyatakan bahwa ada 400 ribu warga Azarbaijan yang mendapat bantuan dari organisasi ini. Dia mengancam, bila tekanan dari para pejabat politik dan media massa Azerbaijan terus berlangsung, organisasi ini akan menghentikan bantuannya tersebut.
Dukungan langsung pemerintahan negara-negara Barat seperti AS atau organisasi keamanan dan kerjasama Eropa (OSCE) terhadap kelompok-kelompok misionaris ini justru semakin membuka tujuan politik mereka. Perlindungan kedutaan besar AS di Azerbaijan terhadap kelompok misionaris dengan alasan melindungi kebebasan aktivitas kelompok agama juga lebih membuktikan kenyataan ini.
Sementara kementrian luar negeri AS mengklaim bahwa agama minoritas di Azerbaijan menghadapi berbagai masalah, kelompok misionaris Barat dengan bebas dan leluasa melakukan aktivitas mereka. Menyusul adanya kesempatan untuk mendaftarkan secara resmi organisasi dan yayasan agama di Republik Azerbaijan, aktivitas misionaris di negara ini semakin meningkat. Di antara organisasi-organisasi yang telah mendaftarkan diri, lebih dari 40 di antaranya adalah organisasi yang terkait dengan kelompok Kristen dan Yahudi. Perlu disebutkan pula bahwa banyak kelompok misionaris lainnya yang tetap melakukan aktivitasnya meskipun belum mendaftarkan diri.
Padahal, pemerintah Azerbaijan sudah menuduh bahwa sebagian organisasi-organsasi misionaris tersebut sebagai mata-mata. Nomik Abasov, menteri keamanan Republik Azerbaijan dalam wawancara dengan televisi negara itu menyatakan, “Agen keamanan negara-negara luar yang berkedok organisasi misionaris memiliki tujuan masing-masing di Azerbaijan yang bertentangan dengan kepentingan negara ini.” Dalam masalah ini, pemerintah Baku bahkan sudah mengusir beberapa misionaris Barat yang terbukti melakukan aktivitas ilegal dan mata-mata. Namun, atas bantuan pejabat AS, mereka bisa kembali lagi ke Azerbaijan dan meneruskan kegiaan mereka.
Di sisi lain, tampak bahwa tindakan pemerintah Baku dalam memberantas aksi mata-mata para misionaris masih bersifat setengah-setengah. Para misionaris di Azerbaijan hingga kini bebas menyebarkan buku-buku dan brosur propaganda Kristen di jalan-jalan dan stasiun-stasiun yang dipenuhi lalu-lalang masyarakat. Sebaliknya, penduduk Azerbaijan yang 90% di antaranya adalah muslim malah menemui banyak kesulitan dalam mengajarkan agama Islam di kalangan mereka sendiri. Sebagai contoh, Menteri Pendidikan dan Pengajaran Azerbaijan, Misir Mardinov, menentang dicantumkannya mata pelajaran agama di sekolah-sekolah. Menurut pandangan pengamat masalah Azerbaijan, tindakan ini menunjukkan adanya upaya dari pihak pemerintah untuk mengurangi peran Islam dalam kehidupan masyarakat di negara ini.
Para misionaris juga sangat memperhatikan penyebaran ajaran Kristen di tengah anak-anak. Alasannya adalah karena anak-anak memiliki hati yang masih bersih dan polos. Ajaran dan pendidikan apapun yang ditanamkan kepada anak-anak akan berpengaruh hingga ketika ia besar nanti. Kepribadian sejati seorang manusia dibentuk sejak ia masih kanak-kanak. John Moot, seorang misionaris terkenal pernah menyatakan, “Kita harus menarik anak-anak ke dalam ajaran Kristen sejak mereka masih kecil.”
Tahun yang 2002 yang lalu, sebuah surat kabar “Echo” terbitan Baku edisi 9 April menulis bahwa gereja Baptist di Azerbaijan telah memanfaatkan kondisi kemiskinan anak-anak untuk menarik mereka ke dalam ajaran Kristen. Anak-anak yang menjadi terget gereja ini adalah mereka yang berusia antara 6 hingga 10 tahun.
Selain itu, para misionaris juga menyusup ke militer Azerbaijan. Sabir Hasanali, sekretaris urusan umat muslimin Kaukasus dan Rektor Universitas Islam Republik Azerbaijan dalam sebuah wawancara dengan televisi INS Azerbaijan, menyatakan, “Anggota misionaris dengan memanfaatkan kesulitan hidup para tentara angkatan bersenjata Azerbaijan, berusaha untuk menjauhkan mereka dari Islam.” Sayyid Mahdi Kaliov peneliti di bidang ilmu keislaman berkeyakinan bahwa sembilan puluh persen aktivitas misionaris di Azerbaijan adalah untuk membawa negeri ini ke dalam perang saudara.Lanjut Hal 8


Translate

© Copyright 2013 ujan tampear powered by Blogger |