Post

Pradaban Sumbawa Yang Hilang benarkan Terjadi secara Alamiah?


Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang nenganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun, kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.(QS Hud 100-101). Allah menciptakan manusia dan memberikannya bentuk fisik dan spiritual , membiarkannya menuju kepada suatu tujuan tertentu dari kehidupan, dan akhirnya Allah menunjukan keberadaan-Nya dengan memberikan kepadanya kematian. Allah menciptakan manusia, dan berdasrkan ayat berikut: "Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan dia Maha Halus lagi Maha
 Mengetahui?. (QS Al Mulk 14). Ia lah satu-satunya yang mengetahui dan mengenalnya, yang mengajarkan kepadanya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Untuk itulah, maka satu-satunya tujuan utama yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupan adalah untuk berdoa kepada Allah, memohon dan menyembah Allah. Untuk alasan yang sama, firman dan wahyu Allah dikomunikasikan kepada hambanya melaui para pembawa pesan-Nya(nabi) adalah menjadi petunjuk bagi manusia. Al Qur'an adalah kitab yang terakhir dari Allah dan wahyu-Nya yang tidak akan pernah diubah. Inilah sebabnya mengapa kita berkewajiban untuk menerima bahwa Al Qur'an sebagai petunjuk kita yang sebenarnya, dan mencermati semua keputusannya. Hal inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia baik di dunia maupun di alam nanti. Namun demikian, kita perlu untuk menelaah dengan penuh kehati-hatian dan dengan penuh perhatian apa yang diceritakan Al Qur'an kepada kita dan merenungkannya. Di dalam Al Qur'an, Allah menyatakan bahwa tujuan utama dari diwahyukannya Al Qur'an adalah tidak lain untuk menyuruh orang agar berpikir; (Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.(QS Ibrahim: 52). Berita-berita tentang kaum yang telah ada terlebih dahulu yang merupakan bagian penting dalam Al Qur'an, jelas-jelas merupakan sebuah hal yang patut untuk kita renungkan. Sebagian besar dari kaum ini mengingkari para nabi yang diutus kepada mereka dan terlebih lagi menunjukan rasa permusuhan terhadap mereka. Karena keberaniannya, merekapun mengundang kemurkaan Allah kepada mereka.dan merekapun telah disapu bersih dari muka bumi. Al Qur'an menceritakan kepada kita bahwa peristiwa-peristiwa penghancuran ini hendaknya menjadi peringaatan bagi generasi berikutnya. Sebagai contoh, tepat setelah penggambaran dari hukuman yang diberikan kepada sekelompok orang Yahudi yang menentang Allah, disini dikatakan dalam Al Qur'an : "Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS Al Baqarah 66). Banyak kaum yang ingkar terhadap Allah atau memusuhi para Rasul-Nya telah dimusnahkan dari muka bumi. Sebagian mereka diadzab dengan letusan gunung berapi, sebagian oleh banjir, dan sebagian lagi oleh badai pasir. Buku ini memaparkan beragam siksaan Allah ini sebagaimana diungkap oleh ayat-ayat Alqur'an dan bukti-bukti penemuan arkeologi. Tujuan kita adalah untuk menyoroti semua peristiwa ini, setiap peristiwa yang merupakan "peringatn bagi mereka di masa itu", sehingga mereka dapat menjadikannya sebagai sebuah "peringatan". Adakah Kaitan dengan Hukum Sunatullah? Di pulau Sumbawa sebelum Tambora meletus tahun1815 terdapat enam kerajaan,yaitu ‎kerajaan Sumbawa, Bima, Dompo, Sanggar, Tambora dan Pekat. Dari enam kerajaan ini merupkana ‎kerajaan besar sejajar dengan kerajaan di wilayah nusantara. Enam kerajaan ini terdapat tiga ‎kerajaan lenyap hampir 2 (dua) abad yang lalu, yaitu kerajaan Sanggar,Tambora,dan Pekat. ‎Lenyapnya tiga kerajaan tersebut merupakan lenyapnya suatu peradaban walaupun sekarang kita ‎mengenal dua suku di pulau Sumbawa,yaitu Suku Bima - Dompu dan Sumbawa. Lenyapnya tiga ‎kerajaan di sekitar lereng Tambora adalah suatu penyelenyapan secara alamiah,namun ‎penyelenyapan itu masih ada salah satu kerajaan bertahan dengan suku tersendiri sampai ‎sekarang,walaupun masih dalam proses penelitian.
 Gunung Tambora, Pulau Sumbawa Indonesia Letusan Terakhir : 10 April 1815. Muntahkan Magma : 100 km³. Lepasan abu (kubik) : 400 km³ debu ke angkasa. Tinggi abu : 44 km dari permukaan tanah. Lontaran abu : 1300km. Radius suara letusan : 2600 km Endapan aliran piroklastik : 7-20m Tsunami sepanjang pantai : sejauh 1200km, tinggi 1-4m, di Maluku Tsunami hingga 2 meter Korban letusan langsung : 117.000 korban jiwa. Kerajaan yang lenyap akibat letusan: Kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar.
Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat.


Perluh di ketahui pradaban kuno sumbawa dr barbagai sumber merupakan pradaban yg menganut paham animisme dan dinamisme jadi,Bantahan akan hilangnya tiga kerjaan di pulau sumbawa mengingatkan kita pada satu kaum -kaum yg pernah di binasakan oleh Allah swt berupa letusan gunung.
Kaum Pompeii Yg dimusnakan 
 Alqur'an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah): “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (QS. Al-Faathir, 35:42-43). Begitulah, “…sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah…”. Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius. Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii. Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya. Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka. Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab. Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun? Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur'an, sebab Alqur'an secara khusus mengisyaratkan “pemusnahan secara tiba-tiba” ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, “penduduk suatu negeri” sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut: “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasiin, 36:29) Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan: “Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.” Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas. Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik-distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai “surga kaum homoseks” di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.Dari berbagai sumber


Post

Misi Kerasulan Yesus

[QS. 61:6. Dan (ingatlah) ketika Yesus anak Maria berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."] Tercatat ada 5 (lima) kasus dalam Alkitab yang berkaitan dengan misi kerasulan Yesus yang tampak dibatasi hanya untuk umat Israel. Perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa ketika membaca frasa "umat Israel", maka ia berkonotasi dengan "umat Yahudi", sementara ketika membaca frasa "umat Yahudi", maka ia belum tentu berkonotasi dengan "umat Israel", karena "agama Yahudi" bukan saja dianut oleh para keturunan Israel (Yakub), tetapi juga dianut oleh orang2 dari bangsa2 lain yang berafiliasi ke agama Yahudi. Namun demikian, Yesus mengemban misi kerasulannya sama sekali bukan untuk orang2 Yahudi, tetapi hanya kepada orang2 keturunan Yakub (Bani Israel). Simak baik2 kasus2 berikut ini:
  1. Kasus 1: Perempuan Kanaan. MATIUS: 15:21. Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. 15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." 15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." 15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." 15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." 15:26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."* 15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." 15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Dalam kasus di atas, Yesus membatasi misinya hanya kepada orang2 sesat dari umat Israel, yang dimetaforakan sebagai "domba2 yang hilang". Tetapi, mengingat desakan dari perempuan Kanaan tersebut, dan mengingat imannya begitu besar, maka Yesus pun menurutinya. Tindakan Yesus ini merupakan pengecualian atas misinya. Adapun kata "Kanaan" merupakan sebutan bagi kelompok etnis masyarakat yang menghuni Palestina sebelum, dan kemudian berdampingan dengan, bangsa Israel. Perlu diketahui juga, bahwa kata "anak-anak" dalam ayat di atas adalah metafora bagi umat Israel dimana Yesus mengemban misinya, yaitu para keturunan Israel dari Yehuda. Demikian juga dengan para keturunan Israel dari Benyamin, mereka juga dirujuk sebagai umat Israel. Sedangkan kata "anjing" dalam ayat di atas merupakan metafora bagi orang2 selain umat Yesus yang dalam konteks ini adalah "orang Kanaan". Orang2 Kanaan, bukanlah umat dimana Yesus mengemban misinya (perhatikan konteks ayat2nya). 2. Kasus 2: Perempuan Yunani. MARKUS: 7:24. Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. 7:25 Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. 7:26 Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. 7:27 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."* * 7:28 Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." 7:29 Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." 7:30 Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar. Kasus Markus di atas sebenarnya sejenis dengan kasus Matius sebelumnya, namun orang yang meminta tolong dalam kasus ini adalah orang Yunani. Dalam kasus ini, orang Yunani tersebut memohon dengan sangat kepada Yesus, yang digambarkan dalam ayat di atas dengan "tersungkur di depan kaki Yesus". Lagi2 Yesus menegaskan, bahwa dirinya hanyalah mengemban misi kepada "anak-anak", bukan kepada "anjing". Sebagaimana dijelaskan dalam kasus Matius di atas, bahwa kata "anak-anak" adalah metafora bagi umat Israel dimana Yesus mengemban misinya, sedangkan kata "anjing" merupakan metafora bagi orang2 selain umat Yesus, yang dalam konteks ini adalah "orang Yunani". Jangankan orang Yunani, orang Kanaan pun Yesus tidak menyampaikan misinya. Namun demikian, oleh karena desakan dan permohonan yang merengek2 dari orang Yunani tersebut, Yesus pun menuruti permohonannya. Sebagaimana kasus Matius di atas, kasus ini juga merupakan pengecualian atas misi yang diemban Yesus, oleh karena "kata-kata orang Yunani" tersebut telah meluluhkan hati Yesus. 3. Kasus 3: Perwira Romawi. LUKAS: 7:1. Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. 7:2 Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. 7:3 Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. 7:4 Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong, 7:5 sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami." 7:6 Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; 7:7 sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 7:8 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." 7:9 Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" 7:10 Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali. Dalam kasus di atas, Perwira Romawi tidak langsung meminta tolong kepada Yesus, tetapi meminta tolong kepada sesepuh2 Yahudi untuk menemui Yesus. Sesepuh2 Yahudi berhasil meyakinkan Yesus bahwa Perwira Romawi tersebut layak untuk mendapat pertolongan karena banyak berjasa bagi umat Israel. Akhirnya, Yesus pun menuruti keinginan sesepuh2 Yahudi tersebut. Sesampainya Yesus di dekat rumah Perwira Romawi, Yesus mendapati iman Perwira tersebut begitu besar, sehingga hambanya disembuhkan. Lagi2 ini adalah pengecualian atas misi kerasulan Yesus, karena dibujuk oleh sesepuh2 Yahudi. 4. Kasus 4: Larangan Yesus. MATIUS: 10:5. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke negeri orang-orang non Yahudi**atau masuk ke dalam kota orang Samaria, 10:6 melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Dalam ayat2 di atas, Yesus melarang keduabelas muridnya untuk memasuki wilayah orang2 non Yahudi termasuk wilayah Samaria. Orang2 Samaria adalah keturunan campuran antara orang2 Asyur dan orang2 Israel, yang melaksanakan jenis agama Yahudi mereka sendiri, lengkap dengan versi Taurat mereka. Yesus hanya memerintahkan murid2nya kepada orang2 sesat dari umat Israel, yang dimataforakan sebagai "domba2 yang hilang". Lagi2 Yesus membatasi misi kerasulannya, bahkan untuk orang Samaria sekalipun! Lebih jauh, Yesus menyebut orang Samaria sebagai orang asing! Selengkapnya, lihat di bawah ini. 5. Kasus 5: Orang Asing. LUKAS: 17:11. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" 17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" 17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." Perhatikan baik2 bagaimana Yesus kembali menyembuhkan seseorang yang bukan dari Israel lantaran iman yang didapati Yesus terhadap orang tersebut demikian baik. Sekali lagi, ini merupakan pengecualian atas misi yang diemban Yesus. Dalam kasus di atas, dari sepuluh orang berpenyakit kusta yang telah disembuhkan Yesus, salah satunya adalah seorang Samaria. Dan Yesus menyembuhkan orang tersebut oleh karena iman orang tersebut yang baik. Perlu dicatat, di sini Yesus secara tegas menyatakan berkenaan dengan orang Samaria yang telah disembuhkannya itu sebagai orang asing. Sementara sembilan orang Israel yang telah disembuhkan bersama2 orang Samaria tersebut, kabur menjauh dari Yesus. Semakin jelaslah sekarang, bahwa Yesus hanya mengemban misi kerasulan yang sangat terbatas, yakni hanya kepada orang2 sesat Israel! Dari kelima kasus di atas, terlihat jelas bahwa Yesus membatasi misinya hanya untuk umat Israel. Mengapa orang2 non Israel tidak memperhatikan misi yang diemban Yesus??? Sungguh sangat mengherankan!!!


Translate

© Copyright 2013 ujan tampear powered by Blogger |