Post

Keutamaan Membaca Basmallah Setiap Akan Memulai Perkara Yang Penting


Bismillah
www.kajiansalaf.com
Ucapan: بِسْــمِ اللهِ “Dengan menyebut nama Allah” adalah wirid yang dibaca pada setiap akan memulai perkara yang penting.
Dengan mengamalkannya akan diperoleh manfaat sebagai berikut:
•Terhidar dari setan untuk makan dan bermalam bersamanya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْـتَهُ فَذَكَر َاللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ, وَإِذَا دَخَلَ وَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ قاَلَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ اْلمَـبِيْتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ اْلمَبِيْتَ وَاْلعَشَاءَ
“Apabila seorang lelaki memasuki rumahnya lalu menyebut nama Allah baik saat memasuki rumah atau saat makannya, maka setan akan berkata: “Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makan malam” Apabila ia masuk lalu tidak menyebut nama Allah saat memasuki rumahnya, setan akan berkata: “Kalian mendapatkan tempat untuk bermalam” Dan apabila ia tidak menyebut nama Allah saat akan makan, maka setan berkata: “Kalian telah mendapat tempat menginap dan makan malam”[1]
•Sempurnanya keberkahan di dalam perkara tersebut.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan banyak riwyat:
“كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ بِبِسْمِ اللهِ (وَفِي رِوَايَةٍ بِذِكْرِ اللهِ) فَـهُوَ أٌَقْـطَعُ, (وَفِي رِوَايَةٍ فَـهُوَ أَبْتَرُ”
“Setip perkara yang tidak dimuali dengan “ بِسْمِ اللهِ ” dalam riwayat yang lain disebutkan dengan menyebut nama Allah maka perkara tersebut menjadi terputus, dalam riwayat yang lain: “maka perkara tersebut menjadi kurang berkah”[2]
•Terhindar dan terjaga dari tipu daya setan:
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
سِتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيـُنِ اْلجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللهِ
“Dinding (yang menghalangi) antara pandangan jin dan aurat anak Adam saat dia memasuki kamar kecil adalah ucapan: بِسْمِ اللهِ Sebuah Pengalaman
Ketika Khalid bin Walid radhiallahu anhu singgah pada sebuah tempat yang bernama Al-Hirah, para shahabatnya mengingatkannya: “Hati-hatilah terhadap racun, jangan sampai orang-orang ajam memberikan kalian minum” maka ia menjawab: “Berikanlah minuman tersebut kepadaku”, lalu ia mengambilnya dan berkata:
” بِسْمِ اللهِ” kemudian ia meminumnya tanpa ditimpa oleh mudharat apapun.[3]
 Catatan Penting
Penjelasan di atas menujukkan tentang keutamaan dan keberkahan membaca bismillah, oleh karenanya, seyogyanya bagi setiap muslim untuk membiasakan lisannya dengan ucapan tersebut pada setiap perkaranya dan pada setaip kondisi agar Allah memberkahi amalanya serta membentenginya dari godaan setan.
[1] HR. Muslim no: 2018
[2] Dishahihkan oleh sekelompok ulama seperti Ibnu Shalah, dan Al-Nawawiy dalam kitab Al-Azkar, Syaekh bin Baz mengaakan bahwa hadits tersebut hasan karena beberapa hadits lain.
[3] HR. Baihaqi, Abu Na’im, Al-Thabrani dan Ibnu Said dengan sanad yang shahih. Tahzibut tahzib, Ibnu Hajar 3/125.
Kaligrafi Bismillah
  • img1
  • img2
  • img3
  • img4
  • img5
  • img6


Post

Muhammad Dan Kaisar Konstantin Yang Agung

Prof. David Benyamin Kaldani
Penysunun Buku Muhammad In The Bible

Muhammad Dalam Perjanjian Lama


Nubuat yang paling menakjubkan dan paling nyata berdasarkan historis adalah tentang misi nabiNya yang dinubuatkan oleh Kitab Daniel yang patut dikaji secara objektif dan kritis. Karena didalamnya telah terjadi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah umat manusia, yang ditunjukkan oleh sosok/ gambaran empat monster besar dalam penglihatan mimpinya Daniel.
“Berkatalah Daniel : "Pada malam hari aku mendapat penglihatan, tampak keempat angin dari langit mengguncangkan laut besar, dan empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain. Yang pertama rupanya seperti seekor singa bersayap burung rajawali ; aku terus melihatnya sampai sayapnya tercabut dan ia terangkat dari tanah dan ditegakkan pada dua kaki seperti manusia, dan kepadanya diberikan hati manusia. Dan tampak ada seekor binatang yang lain, yang kedua, rupanya seperti Beruang ; ia berdiri pada sisinya yang sebelah, dan tiga tulang rusuk masih ada di dalam mulutnya di antara giginya. Dan demikianlah dikatakan kepadanya: Ayo, makanlah daging banyak-banyak. Kemudian aku melihat, tampak seekor binatang yang lain, rupanya seperti Macan tutul ; ada empat sayap burung pada punggungnya, lagipula binatang itu berkepala empat, dan kepadanya diberikan kekuasaan. Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang yang keempat , yang
 menakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh . Sementara aku memperhatikan tanduk-tanduk itu, tampak tumbuh di antaranya suatu tanduk lain yang kecil, sehingga tiga dari tanduk-tanduk yang dahulu itu tercabut; dan pada tanduk itu tampak ada mata seperti mata manusia dan mulut yang menyombong . Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah yang lanjut usianya; pakaiannya putih seperti salju dan rambutnya bersih seperti bulu domba; kursinya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar. Suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapannya; seribu kali beribu-ribu melayani dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapannya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab . Aku terus melihatnya, karena perkataan sombong yang diucapkan tanduk itu ; aku terus melihatnya, sampai binatang itu dibunuh, tubuhnya dibinasakan dan diserahkan ke dalam api yang membakar. Juga kekuasaan binatang-binatang yang lain dicabut, dan jangka hidup mereka ditentukan sampai pada waktu dan saatnya. Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada yang lanjut usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah. (Daniel 7:2-14).
Sebagai seorang dari keluarga kerajaan. Daniel dibawa bersama oleh tiga pemuda Yahudi lainnya ke istana raja Babylonia , disana ia dididik berbagai macam ilmu bangsa Khaldea. Ia tinggal disana sampai dengan penaklukan Persia dan jatuhnya kerajaan Babylonia . Ia menjadi nabi bagi kaum bani Israel dimasa Nebukadnezer dan juga Darius.
Para pengkaji alkitab tidak menganggap bahwa pengarang seluruh kitab Daniel adalah Daniel, yang hidup dan mati setidaknya dua abad sebelum penaklukan Yunani, yang ia sebut dengan “Yavan= Ionia ”. Delapan pasal pertama kitab Daniel –jika saya tidak salah- ditulis dalam bahasa Khaldea dan pasal-pasal selanjutnya dalam bahasa Ibrani.
Menurut interpretasi sang malaikat, masing-masing dari empat binatang itu menunjukkan empat kerajaan. Binatang pertama adalah Singa bersayap rajawali berarti kerajaan Khaldea, yang sekuat dan secepat burung rajawali dalam menyambar musuh. Binatang kedua adalah Beruang yang menunjukkan “Madai-Paris” atau Kerajaan Medo-Persia yang daerah taklukannya hingga laut Adriatik dan Ethiopia , Jadi menahan dengan gigi-giginya satu tulang iga tumbuh masing-masing dari tiga benua dibelahan dunia timur. Binatang ketiga adalah Macan tutul yang memiliki sifat loncatannya cepat dan menggambarkan bagaimana seorang raja Macedonia yang bernama Alexander Agung menaklukan negeri-negeri dengan cepat. Namun setelah wafatnya kerajaan terbagi menjadi empat kerajaan.
Tetapi malaikat yang menafsirkan penglihatan ini tidak berhenti menjelaskan secara terperinci tiga kerajaan yang pertama. Namun menekankan binatang buas yang keempat, yakni seekor monster dan setan yang besar. Inilah kerajaan Romawi yang hebat. Sepuluh tanduk adalah sepuluh kaisar Romawi yang menyiksa kaum Nasrani generasi awal. Sekarang buka lah lembaran Sejarah Gereja dari abad pertama sampai dengan Konstantin Yang Agung. Anda akan menemukan kengerian “sepuluh penyiksaan” yang dilakukan oleh kerajaan Romawi yang terkenal itu.
Sekarang mari kita periksa dengan kritis, siapakah tanduk kecil itu? Karena jika kita berhasil mengidentifikasi siapa tanduk kecil, maka identitas Bar Nasha akan diketahui. Tanduk kecil muncul setelah sepuluh penyiksaan dibawah pemerintahan Romawi. Kemudian kekaisaran Romawi nyaris pecah dengan empat orang augustus resmi (Galerius, Maximinus, Konstantin, dan Licinius) yang memperebutkan pengaruh untuk menjadi Raja Romawi. Tiga orang lainnya mati atau tewas dalam pertempuran, dan Konstantin berhasil menduduki tahta kekaisaran Romawi.
Para juru tafsir Kristen awal telah bekerja sia-sia menisbahkan si Tanduk Kecil yang bodoh ini sebagai AntiKristus, sebagai Paus Roma menurut kaum Protestan, dan sebagai pendiri Islam ( Naudzubillah! ). Tetapi para kritikus alkitab yang belakangan tidak tahu bagaimana memecahkan problem binatang buas keempat yang cenderung mereka identifikasi sebagai kekaisaran Yunani dan si Tanduk Kecil sebagai Antiochus.
Sebagai kritikus, misalnya Carpenter, menganggap Kekaisaran Medo-Persia sebagai dua kerajaan terpisah. Tetapi kekaisaran ini tidaklah lebih tua dari bekas Kekaisaran Austro-Hungaria. Eksplorasi-eksplorasi yang dilaksanaka oleh misi ilmiah sarjana Perancis, M.Morgan, di Shushan ( Susa ) dan di tempat-tempat lainnya tidak meninggalkan keraguan soal ini. Oleh karena itu, binatang buas keempat tidak lain selain Konstantin Yang Agung. Maka argumen-argumen berikut dapat diajukan dengan aman:
1. Konstantin menguasai Maximian setelah tiga rivalnya (Galerius, Maximinus, dan Licinius) tumbang, serta menjadi raja dan mengakhiri penyiksaan kaum Kristen. Menurut saya, The Decline and Fall of The Roman Empire karangan Gibon adalah karya terbaik yang dapat memberikan keterangan kepada kita. Dan Anda tidak akan pernah menemukan empat orang yang saling bersaing memperebutkakan tahta Romawi setelah sepuluh penyiksaan selain ini. Yakni kemunculan Konstantin dan rival-rivalnya setelah sepuluh penyiksaan, dan kemenangan Konstantin atas tiga rival lainnya laksana Tanduk Kecil yang menang atas Tiga Tanduk Lainnya.
2. Keempat binatang buas semuanya digambarkan sebagai kerajaan kejam. Tetapi, Sang Tanduk Kecil mempunyai mulut dan mata manusia, dengan kata lain, merupakan gambaran Sang Tanduk Kecil diberikan kemampuan akal dan kemampuan orator. Konstantin memproklamasikan agama Kristen sebagai agama yang benar, menyerahkan kota Roma kepada Paus, dan menjadikan Byzantium/Konstantinopel sebagai ibu kota Kekaisaran Romawi. Ia berpura-pura mengakui agama Kristen, tetapi ia sendiri tidak pernah dibaptis hingga kematiannya. Dan inipun menjadi persoalan yang diperselisihkan.
Dongeng bahwa kepindahannya memeluk agama Kristen karena melihat salib dilangit sudah lama sejak –seperti cerita tentang Yesus Kristus yang disisipkan dalam Antiquities karya Josephus – diekspos sebagai pemalsuan.
Kebencian binatang buas-binatang buas itu terhadap orang-orang yang beriman kepada Tuhan sangatlah biadab. Konstantin inilah yang masuk dalam kategori seorang seperti domba, tetapi dalam hatinya ia sama sekali bukan orang beriman.
3. Kaisar Konstantin - Sang Tanduk Kecil – berbicara “sombong” menentang Yang Maha Tinggi. Mengucapkan kata-kata penghinaan terhadap Tuhan. Mempersekutukan Tuhan dengan Nabi-Nya, dan menisbahkan kepada-Nya nama-nama dan sifat-sifat yang bodoh, seperti yang “memperanakkan” dan “diperanakkan”, “kelahiran” dan “prosesi” (orang kedua dan ketiga), “KeEsaan dalam Trinitas” dan “doktrin Tuhan bereinkarnasi menjadi seorang manusia” adalah jelas bentuk-bentuk penghinaan. Sejak nabi-nabi awal diutus oleh Nya sampai dengan sahadat dan UU Dewan Nicea diproklamirkan dan diberlakukan melalui sebuah maklumat Kerajaan Konstantin ditengah-tengah kengerian dan protes dari anggota-anggota yang beriman pada 325M, Keesaan Tuhan tidak pernah dengan begitu resmi dan terang-terangan dicemarkan oleh mereka yang berpura-pura menjadi umatNya seperti Konstantin dan gerombolan kaum Gereja yang kufur!
Karena Sang Tanduk Kecil berkata sombong dengan melontarkan kata-kata penuh penghinaan terhadap Tuhan adalah seorang Raja (sebagaimana keterangan yang ada pada kitab Daniel), karena maklumatnyalah ia memproklamirkan keyakinan atas Trinitas, suatu syahadat yang dikutuk keras sebagai penghujatan terhadap Perjanjian Lama, dan yang dibenci oleh kaum Yahudi maupun Muslim.
Seandainya Sang Tanduk Kecil bukan Konstantin, lantas siapakah gerangan dia itu? Dia sudah datang dan pergi, dan bukan seorang AntiKristus yang muncul sesudah ini, yang mungkin kita tidak dapat mengidentifikasinya.
Seandainya kita tidak mengetahui bahwa Sang Tanduk Kecil yang dibicarakan sudah datang, lantas bagaimana kita harus menafsirkan keempat binatang buas itu, dimana binatang buas yang pertama sudah pasti Kerajaan Khaldea, binatang kedua Medo-Persia, dan seterusnya? Jika binatang buas keempat tidak mewakili Kerajaan Romawi, bagaimana kita dapat menafsirkan yang ketiga, yang memiliki empat kepala sebagai Kekaisaran Alexander yang pecah menjadi empat kerajaan setelah kematiannya? Adakah kekuasaan lain yang menggantikan Kekaisaran Yunani sebelum Kekaisaran Romawi dengan sepuluh raja yang menyiksa orang-orang beriman kepada Tuhan? Cara berpikir yang menyesatkan dan ilusi tidaklah berguna.
4. Si Tanduk Kecil yang berkembang menjadi “penglihatan yang sedikit lebih hebat” daripada tanduk lainnya, tidak hanya mengucapkan kata-kata menentang Tuhan Yang Maha Tinggi, tetapi juga ia memerangi dan menaklukan umat Yang Maha Tinggi dan menaklukan mereka (Daniel 7:25). Lebih dari seribu rohaniwan yang dipanggil ke Majelis Umum di Nicea, dan hanya 318 orang yang tunduk pada keputusan-keputusan Majelis Nicea, dan mereka pun membentuk tiga faksi yang berlawanan dengan masing-masing ungkapannya yang ambigu dan kotor seperti “ homousion ” (=memiliki substansi, sifat, dan esensi yang sama dengan tiga oknum Trinitas), “Konsubstansial” (=orang Kristen yang mendukung definisi kaum Trinitas tentang Majelis Nicea tentang Yesus anak Tuhan sebagai konsubstansial dengan Tuhan Bapak), dan istilah-istilah asing lainnya yang ngawur dan aneh bagi nabi-nabi Israel, tetapi hanya bermanfaat bagi Sang Tanduk Kecil.
Kaum Kristen yang menderita penyiksaan dan mati – dibawah kaisar-kaisar Romawi penyembah berhala – karena mereka beriman pada satu Tuhan, kini dihukum atas peintah Konstantin “Kristen” dengan siksaan-siksaan yang bahkan lebih kejam karena menolak untuk memuja sang hamba Yesus.
Para sesepuh dan pendeta akidah Aria, yakni Qshishi dan Mashmshani -seperti itulah mereka disebut oleh kaum Kristen Yahudi awal – dipecat dan dibuang, kitab-kitab mereka diberangus, dan gereja-gereja mereka dirampas dan diserahkan kepada para uskup dan imam Trinitarian. Setiap karya bersejarah Gereja akan memberikan banyak informasi kepada kita tentang jasa Konstantin kepada munculnya akidah Trinitas, dan tirani kepada para penentangnya. Pasukan-pasukan kejam ditempatkan di setiap provinsi untuk membantu otoritas Gereja.
Konstantin melambangkan sebuah rejim teror dan perang yang sengit terhadap kaum unitarian (ahlutauhid), yang keberadaanya di timur berakhir selama tiga setengah abad, ketika kaum Muslim menegakkan agama Allah dan mengambil kekuasaan serta dominion atas negeri-negeri yang diinjak-injak dan dihancurkan oleh empat binatang buas. 
 5. “Tanduk Yang Berbicara” dituduh telah mengubah “Hukum dan Waktu”. Ini adalah sebuah tuduhan yang sangat serius terhadap Sang Tanduk Kecil. Hujatan-hujatannya atau “kata-kata sombong menentang Yang Maha Tinggi” bisa saja mempengaruhi orang lain, tetapi mengubah Hukum Tuhan dan hari-hari serta perayaan-perayaan suci sudah pasti akan menumbangkan juga agama. Dua perintah Hukum Musa, mengenai keesaan Tuhan yang mutlak dan pelarangan yang keras membuat gambar dan patung untuk pemujaan, benar-benar dilanggar dan dicabut atas perintah Konstantin.
Memproklamirkan tiga oknum dalam Ketuhanan dan mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal dikandung dan dilahirkan oleh perawan Maria adalah penghinaan paling besar terhadap Hukum Tuhan dan merupakan pemberhalaan yang kotor.
Membuat patung emas atau kayu untuk pemujaan sudah cukup berat sekali, tetapi membuat makhluk hidup sebagai objek pemujaan dengan menyatakannya sebagai Tuhan, dan bahkan memuja roti dan anggur Ekaristi sebagai “tubuh dan darah Tuhan”, adalah suatu penghinaan yang sangat besar.
Lantas, bagi setiap orang Yahudi yang beriman dan bagi seorang nabi seperti Daniel, yang sejak muda menjadi pelaksana Hukum Musa yang paling taat, apa yang mungkin lebih menjijikkan daripada penggantian Paskah dengan Domba Paskah (Paschal Lamb [yakni, Kristus]) yang dimakan pada perayaan agung paskah dan pengorbanan “Domba Tuhan” diatas kayu salib, dan diatas ribuan altar setiap hari?
Penghapusan hari Sabat adalah suatu pelanggaran langsung atas perintah keempat dari sepuluh perintah Tuhan ( Ten Commandments atau Decologue ), dan kebiasaan hari minggu malah berubah-ubah karena berlawanan. Memang benar, Al-Qur'an menghapuskan hari Sabath, bukan karena hari Jum'at hari suci, melainkan karena kaum Yahudi menyalahgunakannya dengan menyatakan bahwa setelah Tuhan bekerja enam hari menciptakan alam semesta maka pada hari tujuhnya Tuhan istirahat. Sehingga Tuhan seakan-akan seorang manusia yang ditimpa kelelahan.
6. Sang Tanduk dibolehkan untuk memerangi orang beriman sekitar tiga setengah masa (abad).
Salah satu kaki tangannya si tanduk Iblis adalah Paulus Tarsus(Solus)


Sumber:
"Menguak Misteri Muhammad SAW", Benjamin Keldani.


Post

Penyesatan Ajaran Orientalis Terhadap Generasi Mudah

Catatan Sejarah
Sejak masa Nabi Muhammad saw. sampai sekarang. orientalis tak henti-hentinya untuk menyerang risalah Ilahi. Mereka mempertanyakan dan mengaburkan sejarah awal kodifikasi Al-Qur'an. upaya penyelewengan orientalis dari Leo III, Johannes dari Damaskus, Abdul Masih al-Kindi ,Petrus Venerabilis , Ricoldo da Monte Croce, Martin Luther hingga orientalis saat ini.
Untuk mendapatkan simpati atas usahanya dalam mem-prakarsai Islamic Studies, Petrus Venerabilis mengirim surat kepada Bernard dari Clairvaux (±1090-1153). Di dalam Epistola Petri Cluniacensis ad Bernardum Caraevallis (Surat Petrus Cluny kepada Bernard dari Clairvaux), Petrus menyatakan”
sekiranya apa yang dilakukannya dianggap tidak berguna, karena pemikiran bukanlah senjata untuk menga¬lahkan musuh (Islam), tetap saja kerja ilmiah seperti itu akan ada manfaatnya. Jika orang-orang Islam yang sesat tidak dapat diubah, maka sarjana Kristen akan bisa menasehati orang¬ orang Kristen yang lemah imannya.
Perjalanan sejarah membuktikan Petrus Venerabilis benar. Sekalipun pada zamannya, usahanya tidak mendapat banyak sambutan. Namun misi dan visinya justru menjadi kenyataan setelah ratusan tahun kematiannya. Sekarang, studi Islam di Barat telah menjadi "rujukan." Banyak sekali calon¬ calon intelektual Muslim mempelajari Islam melalui orang¬orang Kristen, Yahudi atau bahkan Ateis. Dengan banyaknya pemikir Muslim pada abad 20 ini yang terpengaruh Kristen, maka "penaklukan pemikiran" yang dicita-citakan oleh Petrus Venerabilis telah menjadi sebuah kenyataan. Hadirnya beberapa orientalis di indonesia merupakan kesuksesan penyesatan Petrus Venerabilis salah satunya yang sangat menonjol
Orientalis Indonesia
Nurcholish Madjid. Dengan tanpa menggunakan terminologi Islam, Nurcholish berargumentasi bahwa inti modernisasi adalah ilmu pengetahuan, dan rasionalisasi adalah keharusan mutlak sebagai perintah Tuhan, maka. Maka dari itu modernitas
  membawa kepada pendekatan (taqarrub) kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Istilah-istilah yang digunakan dalam pembaruan Islam adalah murni Barat, sehingga pengaruh pemikiran Barat didalamnya sudah bisa diduga. Pengaruh paham modernisme dalam pemikiran Nurcholish lebih jelas lagi ketika ia mengambil unsur utama modernisasi, yaitu sekularisasi untuk memahami agama.
Sekularisasi menurutnya adalah "menduniawikan masalah-masalah yang mestinya bersifat duniawi, dan melepaskan ummat Islam untuk mengukhrawikannya" kemudian diperkuat dengan idenya tentang "liberalisasi pandangan terhadap ajaran-ajaran Islam" dengan memandang negatif tradisi dan kaum tradisionalis. Gagasan ini mengadopsi pemikiran Harvey Cox dan Robert N. Bellah, pencetus gagasan sekularisasi dalam Kristen, dan tidak ada modifikasi yang berarti. Ia hanya mencarikan justifikasinya dalam ajaran Islam.
Nurcholish juga membatasi makna sekularisasi agar tidak berarti sekularisme. Pembatasan diberikan dengan adanya kepercayaan akan adanya Hari Kemudian dan prinsip Ketuhanan.
Pembatasan ini tetap saja bersifat memisahkan secara dichotomis. Orang-orang sekuler di dalam Kristen adalah orang-orang yang percaya pada Hari Akhir dan pada Tuhan, hanya saja mereka, karena sejarah mereka, tidak ingin agama mencampuri kehidupan dunia mereka, agama adalah properti pribadi dan bukan publik. Dalam Islam agama adalah urusan dunia dan akherat, urusan pribadi dan urusan publik sekaligus. Jadi secara epistemologis akhirnya sekularisasi ini juga akan menjadi sekularisasionisme (secularizationism).
Gagasan yag lebih vulgar dan bahkan secara eksplisit merupakan kepanjangan dari Westernisasi adalah trend pemikiran yang kini dikenal dengan liberalisasi. Jika gagasan Nurcholish dan Harun Nasution cenderung mengadapsi paham-paham dalam modernisme, liberalisasi lebih condong menerapkan paham-paham yang dibawa oleh postmodernisme. Relativisme, pluralisme, equality (persamaan), dekonstruksi dan lain sebagainya adalah terma-terma pemikiran postmodern. Karena bermuatan Westernisasi maka trend pemikiran ini menjadi sebuah gerakan sosial. Meski ia di perkotaan dan perguruan tinggi, namun secara perlahan-lahan berpengaruh dalam pembentukan opini dan jika dibiarkan maka akan berkembang menjadi framework pemikiran. Lebih-lebih trend pemikiran ini juga diminati oleh para dosen yang pernah belajar dengan para orientalis di Barat.
Hadirnya Hamid F. Zarkasyi yang juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), lulus program Ph.D. pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006, setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Al-Ghazali’s Concept of Causality’, meruntuhkan dogma dogma libralis Nurcholish Madjid.
TSAQAFAH. Jurnal ini diterbitkan oleh Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Pondok Modern Darussalam Gontor Indonesia. Pada edisi Vol.2, Nomor 2, 2006/1427, diangkat berbagai artikel menarik tentang keislaman. Salah satu yang perlu kita jadikan catatan adalah sebuah artikel berjudul “Framework Kajian Filsafat Islam” tulisan Hamid Fahmy Zarkasyi, Pembantu Rektor III ISID.
Melalui riset yang cukup mendalam terhadap sejumlah kurikulum kajian filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam di Indonesia –baik yang negeri maupun swasta– Hamid Fahmy membuktikan bahwa kajian filsafat Islam di Indonesia tampak jelas terpengaruh oleh kajian para orientalis. Pengaruh itu tidak hanya pada cara atau metodologi pengkajian, tetapi lebih mendasar lagi, sampai pada framework (kerangka) dan cara pandangnya terhadap filsafat Islam.
Disertasi Kaum libralis merupakan agenda yang tak terlupakan dimana hampir semua kampus islam Indonesia IAIN,UNMH,UIN dll pernah menjadi sasaran pemurtadan massal dengan memberikan dogma dogma keraguan kepada mahasiwa-siwi tentang berbagai konsep keislaman(intimidasi filsafat setan) “Nauzubillah min Zalik”
LIHAT AGENDA VIDEONYA "KLIK Disini atau Klik GAMBAR

LIHAT AGENDA Artikel Tentang Pemurtadan KLIK Disini atau Klik GAMBAR


Cara pandang ini tentu bukan tanpa maksud. Secara sistematis, mereka akan menunjukkan bahwa filsafatIslam hanyalah kertas copi dari Yunani; tanpa Yunani, Islam tidak memiliki pemikiran rasional. Padahal, sekalipun konsepsi falsafah juga dikenal dalam pemikiran Islam, namun tetap disertai kritik dan seleksi yang ketat. Itulah yang dilakukan oleh Al-Ghazali dan Ibn Taymiyah.
Menurut Hamid Fahmy, berbeda dengan tradisi filsafat Yunani yang berdasarkan akal, tradisi filsafat Islam bersumberkan pada wahyu. Dengan demikian, filsafat Islam adalah filsafat yang lahir dari pemahaman, penjelasan, dan pengembangan konsep-konsep penting dalam al-Quran dan Sunnah.
Sejumlah ilmuwan seperti Ibn Sina, al-Kindi, dan al-Farabi, menerima filsafat Yunani dan berusaha memodifikasikannya agar sesuai dengan prinsip-prinsip penting dalam ajaran Islam. Al-Ghazali dan Fakhruddin al-Razi menerimanya sejauh masih sejalan dengan ajaran Islam dan menolak konsep-konsep yang bertentangan dengan Islam.
Ibn Taymiyah termasuk diantara penolak keras “filsafat”, tetapi ternyata juga menerima jenis filsafat tertentu, yang disebutnya al-falsafah al-shahihah (filsafat yang benar) dan al-falsafah al-haqiqiyah (filsafat yang sebenarnya).
Jadi, sejak awal, umat Islam sudah memiliki tradisi berpikir sendiri yang berdasarkan wahyu, yang berbeda dengan tradisi berpikir Yunani. Sumber aspirasi yang asli dan riil dari para pemikir Muslim adalah Al-Quran dan Sunnah Rasul. Bahwa ada sebagian unsur asing yang kemudian diserap dalam khazanah pemikiran Islam, tetap diupayakan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dalam masalah Tuhan, manusia, dan alam semesta, para pemikir Muslim memiliki konsep mereka sendiri yang justru tidak terdapat dalam tradisi filsafat Yunani.
berhati-hatilah Membaca ”Ensiklopedi Islam untuk Pelajar jika sekirahnya bertentangan dengan al-Qur’an dan Al-hadis itu tidak jauh penyesatan turun temurun yg di lakukan oleh Oknum Orientalis dengan filsafat filsafat Paganisme( Ajaran bangsa yg telah di laknat serta dimusnakan allah swt )
"Dan Kami turunkan (Al-Qur'an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur'an itu telah turun dengan (membawa) kebenararn."( Qs Al-Isra': 105).
“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)
Referensi:
•Petrus Venerabilis menulis: "If my work seems pointless because the en¬emy remains invulnerable to such weapons. I answer that in the land of a great king some things are done tor protection, others for adonunent, others again for both. Solomon the Peaceful forged weapons tor protection which were not needed in his day. David prepared ornaments for the Temple, although they could not be used in his day... This work, as I see it, cannot be called unless. If the erring Muslims cannot be converted by it, scholars who are zealous in the cause of justice must nevertheless not tail to forewarn those weak members ofthe Church who are easily scandalized and utwittingly moved by insignificant causes. "Dikutip dari Maxime Rodinson, "The Western Image and Western Studies of Islam," dalam The Legacy of Islam, editor Joseph Schacht dengan C. E. Bosworth (Oxford: Oxford Univer¬sity Press, edisi kedua, 1974), 16-17.
• Leo menyatakan: " As for your (book), you have already given us examples of such falsifications, and one knows, among others, of a certain Hajjaj, named by you as Governor of Persia, who had men gather up your ancient books, which he replaced by others composed by himself, according to his taste, and which he propa-gated everywhere in your nation, because it was easier by far to undertake such a task among a people speaking a single language. From this destruction, neverthe¬less, there escaped a few of the works of Abu Turab, for Hajjaj could not make them disappear completely.
•Pendapat John mengenai Islam telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John W. Voorhis, "John of Damascus on the Moslem heresy," MW 24 (1934), 391-9R. Masih ada karya Johannes yang lain mengenai Islam, yaitu הדיאלקטיקה בין מוסלמי ונוצרי (dibaca: lonaou tou Damaskhenou, Dialeksiis Sarakhenou khai Khristianou yang artinya Johannes dari Damaskus, Dialektika antara Seorang Muslim dan Seorang Kristen). Tetapi karena naskah tersebut tidak terkait dengan AI-Qur'an, maka tidak dibahas disini. Naskah tersebut sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh John W. Voorhis, "The Discussion of a Christian and a Saracen," MW 25 (1935), 266-73.
• Anton Tien, Apology. 458. Untuk menjustifikasi pendapatnya, al-Kindi menguup ucapan Muhammad sebagaimana yang terekam di dalam Surah al-Ma'idah (5: 82) yang menyebutkan: "Sesungguhnya kamu dapati orang,-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya kami ini orang Nasrani. Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." -Anton Tien, Apology, 454-55.
• AI-Kindi menyatakan: "What ignorance could be more dense than his who appeals to such a book as evidence and proof that its author was a prophet sent by God! Is there anything here parallel to the cleaving of the sea by Moses; the raising of the dead and the cleansing of the Iepers by Christ our Lord? This can approve it self only to the incurably ignorant who have never learned to collate and com¬pare. I do not think that anyone of penetration or discrimination could venture to think it, much less detend it. Scarcely could he dream of it unless he were beside himselt; out of his senses or weak in intellect. Or will you, in God's name I ask it, make an attempt to detend such a book by torce ofreasvn, by subtletly of thought and weight of learning, knowing what you do of its origin and how the authority of its text has been broken down betore the inyuiry we have instituted? I am accus-tomed to such studies, versed in textual criticism, and such fictitious narratives and 'cooked up "stories will not pass with me." Lihat Anton Tien, Apology, 460.
• Petrus Venerabilis menyatakan: "The highest purpose of this heresy is to have Christ the Lord believed to be neither God nor the Son of God, but (through a great man and one beloved of God) simply a man-a wise man and the greatest prophet. Indeed, that which was once conceived by the device of the devil, first propagated through Arius, then advanced by that satan, namely Mohammad, will be tirlfilled completely, according to the diabolical plan, through the Antichrist. For since the Blessed Hilary said that the origin of the Antichrist arose in Arius, then what Arius began by denying that Christ was the one true Son of God and calling him a creature, the Antichrist will tinally bring to its completion by assert¬ing that he was not only not God or the son ofGod, but not even a good man. This mock wicked Mohammed seems to have been appropriately provided and prepared by the devil as the mean between these two, so that he became both a supplement, to a certain extent, to Arius, and the greatest sustenance for the Antichrist, who will allege even worst things before the minds of unbelievers. " Dikutip dari Patrick O'Hair Cate, Each Other's Scriptrtre: The Muslims' Views of the Bible and the Christians' Views ofthe Qur'an (Michigan, Ph. D., Thesis at The Hartford Semi¬nary Foundation, 1974), 18, selanjutnya diringkas Each Other's Scripture.
• Ricoldo menyatakan: "The author is not human but the Devil who, by his own malice and by permission of God on account of human sin, has prevailed to initiate the work of Anti-christ. The devil, when he saw the Christian faith greatly increasing in the Orient and idolatry diminishing, and Chosroes the detender of idolatry over come by Heraclius, who demolished the high tower which Chosroes had built of gold, silver and precious stones for the worship of idols, and when he saw the cross of Christ raised up by that same Heraclius, and that it was or the Law of Moses and the Gospel of Christ, which has spread throughout the whole world, to be negated, the Devil devised a form of law (religion) which was halfway be¬tween the Old and New Testaments, in order to deceive the world. For this purpose he chose Muhammad." Dikutip dari Patrick O'Hair Cate, Each Other's Scripture, 187.
• Marin Luther menyatakan: "Mohammad denies (negat) that Christ is the Son of God. He denies that faith in Him remit sin and has died for our sins. He denies that he rose for our life. He denies that faith in Him remits sin and justifies us. He denies His coming judge¬ment of the living and the dead. Perhaps there is a resurrection of the dead, but he believes in a judgment by God. He denies the Holy Spirit and His gifts. "Dikutip dari Luther and Muhammedanism, MW 31 (1941), 171.
•Nurcholish Majid: mendefinisikan sekularisasi sebagai “menduniawikan masalah-masalah yang semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam daru sikap mengukhrawikannya”. Definisi dan penjelasan Nurcholish itu dianalisis oleh Faisal dan dibandingkan dengan pengertian sekularisasi yang diberikan sejumlah cendekiawan, seperti Peter Beger, Harvey Cox, Fazlur Rahman, HM Rasjidi, Mukti Ali, dan sebagainya. Kesimpulannya, tulis Faisal: Definisi Nurcholish Madjid tentang sekularisasi sangat tidak memadai, sangat lemah, bahkan tidak memiliki dasar rujukan ilmiah. (bacaTSAQAFAH oleh:Hamid F. Zarkasyi)


Post

ALLAH SWT, Dalam Pandangan Pluralis

 Tiada Zat Yg Sebanding DenganNYA
Salah satu pandangan yang senantiasa dilempar oleh kaum Pluralis Agama dalam 'mengelirukan' pemikiran kaum Muslim, adalah mengatakan, "semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang satu".
Mereka mengatakan, soal nama "Yang Satu" itu tidaklah penting. Yang Satu itu dapat dinamai Allah, God, Lord, Yahweh,Elohim,The Real, The Eternal One, dan sebagainya. Bagi mereka, nama Tuhan tidak penting. Ada yang menulis: "Dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan Segala agama."
Kita ingat, dulu, ada cendekiawan terkenal yang mengartikan kalimat syahadat dengan: "Tidak ada tuhan (dengan t kecil), kecuali Tuhan (dengan T besar).

Tradisi yang tidak tahu dan tidak mempersoalkan nama Tuhan bisa kita telusuri dari tradisi Yahudi. Kaum Yahudi, hingga kini, masih berspekulasi tentang nama Tuhan mereka.
Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh. The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan 'Yahweh' sebagai "The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy."
Karena tidak memiliki tradisi sanad yang sampai kepada Nabi Musa a.s. maka kaum Yahudi tidak dapat membaca dengan pasti empat huruf "YHWH". Mereka hanya dapat menduga-duga, empat huruf konsonan itu dulunya dibaca Yahweh. Karena itu, kaum Yahudi Ortodoks tidak mau membaca empat huruf mati tersebut, dan jika ketemu dengan empat konsonan tersebut, mereka membacanya dengan Adonai (Tuhan).
Spekulasi Yahudi tentang nama Tuhan ini kemudian berdampak pada konsepsi Kristen tentang "nama Tuhan" yang sangat beragam, sesuai dengan tradisi dan budaya setempat. Di Mesir dan kawasan Timur Tengah lainnya, kaum Kristen menyebut nama Tuhan mereka dengan lafaz "Alloh", sama dengan orang Islam; di Indonesia mereka melafazkan nama Tuhannya menjadi "Allah"; dan di Barat kaum Kristen menyebut Tuhan mereka dengan "God" atau "Lord".
Bagi orang Kristen, "Allah" bukanlah nama diri, seperti dalam konsep Islam. Tetapi, bagi mereka, "Allah" adalah sebutan untuk "Tuhan itu" (al-ilah). Jadi, bagi mereka, tidak ada masalah, apakah Tuhan disebut God, Lord, Allah, atau Yahweh. Yang penting, sebutan itu menunjuk kepada "Tuhan itu". Ini tentu berbeda dengan konsep Islam.
Di Indonesia, muncul kelompok-kelompok Kristen yang menolak penggunaan nama "Allah" untuk Tuhan mereka dan menggantinya dengan kata "Yahwe". Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM) yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok ini mengatakan: "Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.''
Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000. Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata "Allah" menjadi "Eloim", kata "TUHAN" diganti menjadi "YAHWE"; kata "Yesus" diganti dengan "Yesua", dan "Yesus Kristus" diubah menjadi "Yesua Hamasiah".
Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya "Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh" yang menerbitkan Bibel sendiri dengan nama "Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini". Kelompok ini menegaskan, "Akhirnya nama "Allah" tidak dapat dipertahankan lagi." (Tentang kontroversi penggunaan nama Allah dalam Kristen, bisa dilihat dalam buku-buku I.J. Setyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); juga Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke-3).
Itulah tradisi Yahudi-Kristen dalam soal penyebutan nama Tuhan. Sayangnya, oleh sebagian kaum Muslim atau orientalis Barat, tradisi Yahudi dan Kristen ini kemudian dibawa ke dalam Islam. Pada berbagai terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris, kita menemukan tindakan yang tidak tepat, yaitu menerjemahkan semua lafaz Allah dalam Al-Quran menjadi "God". Dalam konsep Islam, Allah adalah nama diri (ismul 'alam/proper name)dari Dzat Yang Maha Kuasa.
Maka, seharusnya, lafaz "Allah" dalam Al-Quran tidak diterjemahkan ke dalam sebutan lain, baik diterjemahkan dengan "Tuhan", "God", atau "Lord".,Kata Tuhan Mempunyai Makna Kemajemukan,Sesuatu yg di sembah atau orang melakukan ritual penyembahan terlepas dari makna hidup dan mati sesembahan itu,kaum-kaum yg telah binasa digambarkan dalam alqur’an juga mengekfloitasi makna tuhan dengan Berhala Beberapa terjemahan Al-Quran bahasa Inggris telah menerjemahkan lafaz Allah menjadi God. Misalnya, Abdullah Yusuf Ali – dalam The Holy Qur'an -- menerjemahkan "Bismillah" dengan "In the name of God".
Begitu juga, "Alhamdulillah" diterjemahkan dengan "Praise be to God", dan "Qul Huwallahu ahad" diterjemahkan dengan "Say: He is God, the One and Only". Kasus yang sama – penerjemahan nama Allah menjadi God – juga bisa dilihat dalam Terjemah al-Quran bahasa Inggris yang dilakukan oleh J.M.
Harusnya, kata Allah dalam al-Quran tidak diterjemahkan, karena "Allah" adalah nama. Seperti halnya kita tidak boleh menerjemahkan kata mantan "President Bush" dengan "Presiden semak", atau nama mantan Menlu AS "Rice" dengan "Menteri Nasi".

Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sesuai dengan konsep Pandangan Hidup Islam (Islamic worldview) yang bersifat otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam Al-Quran yang juga bersifat otentik dan final.
Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).
Bait pertama dalam Aqidah Thahawiyah yang ditulis oleh Abu Ja'far ath-Thahawi (239-321H), dan disandarkan pada Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Syaibani, menyatakan: "Naquulu fii tawqiidillaahi mu'taqidiina – bitawfiqillaahi: Innallaaha waahidun laa syariikalahu." Dalam Kitab Aqidatul Awam – yang biasa diajarkan di madrasah-madrasah Ibtidaiyah – ditulis bait pertama kitab ini: "Abda'u bismillaahi wa-arrahmaani—wa bi-arahiimi daa'imil ihsani." Ayat pertama dalam al-Quran juga berbunyi "Bismillahirrahmaanirrahiimi", dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz 'Allah' dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam Al-Quran.
Dengan adanya ilmul qiraat yang berdasarkan pada sanad – yang sampai pada Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah.
Dengan demikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan 'spekulasi filosofis' untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melalui Al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.
Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang Maha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini. Tuhan orang Islam adalah jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. (Q.S 112). Dan syahadat Islam pun begitu jelas: "La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" -- Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah". Syahadat Islam ini tidak boleh diterjemahkan dengan "Tidak ada tuhan kecuali Tuhan dan Yang Terpuji adalah utusan Allah".
Kaum Muslim di seluruh dunia – dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda – juga menyebut dan mengucapkan nama Allah dengan cara yang sama. Karena itu, umat Islam praktis tidak mengalami perbedaan yang mendasar dalam masalah konsep 'Tuhan'. Karen Armstrong menulis dalam bukunya:
"Al-Quran sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan."
Bagi kaum Pluralis Agama, siapa pun nama Tuhan tidak menjadi masalah, karena biasanya mereka memandang, agama adalah bagian dari ekspresi budaya manusia yang sifatnya relatif. Karena itu, tidak manjadi masalah, apakah Tuhan disebut Allah, God, Lord, Yahweh, dan sebagainya. Mereka juga mengatakan, bahwa semua ritual dalam agama adalah menuju Tuhan yang satu, siapa pun nama-Nya. Nurcholish Madjid, misalnya, menyatakan, bahwa:
"... setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama." (Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan, (1999), hal. xix).
Seorang Pluralis pendatang baru, juga menulis dalam buku terbarunya, "Semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi, kembalinya kepada Allah."
Pandangan yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah, adalah pandangan yang keliru. Hingga kini, sebagaimana dipaparkan sebelumnya, di kalangan Kristen saja, muncul perdebatan sengit tentang penggunaan lafal "Allah" sebagai nama Tuhan. Sebagaimana kaum Yahudi, kaum Kristen sekarang juga tidak memiliki 'nama Tuhan' secara khusus. Kaum Hindu, Budha, dan pemeluk agama-agama lain juga tidak mau menggunakan lafaz "Allah" sebagai nama Tuhan mereka.
Kaum musyrik dan Kristen Arab memang menyebut nama Tuhan mereka dengan "Allah" sama dengan orang Islam. Nama itu juga kemudian digunakan oleh Al-Quran. (Al-Quran memang menyebutkan, jika kaum musyrik Arab ditanya tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan menyebut "Allah":
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).(QS 29:61),
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah ).(Q.S.43:87).
Tetapi, perlu dicatat, bahwa Al-Quran menggunakan kata yang sama namun dengan konsep yang berbeda. Bagi kaum musyrik Arab, Allah adalah salah satu dari Tuhan mereka, disamping tuhan Lata, Uza, Hubal, dan sebagainya. Karen Armstrong menyebut, ketika Islam datang, 'Allah' dianggap sebagai 'Tuhan Tertinggi dala mkeyakinan Arab kuno.
Karena itu, dalam pandangan Islam, mereka melakukan tindakan syirik terhadap Allah. Sama dengan kaum Kristen, yang dalam pandangan Islam, juga telah melakukan tindakan syirik dengan mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan. Karena itulah, Nabi Muhammad saw – sesuai dengan ketentuan QS al-Kafirun – menolak ajakan kaum musyrik Quraisy untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan masing-masing secara bergantian.
Allah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari pemadatan al dan Ilah, Allah adalah Keberadaan diri Dzat Rabb Semesta Alam,Maha Segala-galanya.
Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. (QS. 2:255)
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S.20:14)
Jadi, tidak bisa dikatakan, bahwa orang Islam menyembah Tuhan yang sama dengan kaum kafir Quraisy. Jika menyembah Tuhan yang sama, tentulah Nabi Muhammad saw akan memenuhi ajakan kafir Quraisy.
"Katakan, hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi peyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (Q.S :109).
QS al-Kafirun ini menjadi dalil bahwa karena konsep Tuhan yang berbeda – meskipun namanya sama, yaitu Allah -- dan cara beribadah yang tidak sama pula, maka tidak bisa dikatakan bahwa kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy menyambah Tuhan yang sama. Itu juga menunjukkan, bahwa konsep Tuhan kaum Quraisy dipandang salah oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga cara (jalan) penyembahan kepada Allah. Karena itulah, nabi Muhammad dilarang mengikuti ajakan kaum kafir Quraisy untuk secara bergantian menyembah Tuhan masing-masing.
Sebagai Muslim, kita meyakini, Islam adalah agama yang benar. Tuhan kita Allah, yang nama-Nya diperkenalkan langsung dalam Al-Quran. Tidaklah patut kita membuat teori-teori yang berasal dari spekulasi akal, dengan menyama-nyamakan Allah dengan yang lain, atau menserikatkan Allah dengan yang lain, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Pluralis Agama. Wallahu a'lam. Referensi:
-The Concise Oxford Dictionary of World Religions
-I.J. Setyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004)
-Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005)
-Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke-3)
-Rodwell (terbitan J.M. Dent Orion Publishing Group, London, 2002. Terbit pertama oleh Everyman tahun 1909)
-Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islamic worldview
-Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995)
-Karen Armstrong, Sejarah Tuhan (Terj), 2001), hal. 199-200.
-Karen Armstrong, op cit, hal. 190


Post

Din Dan Kehidupan

Defenisi agama atau ad-Din.Kata agama memang sering dipadankan pengertiannya terhadap Dien, padahal istilah Dien jauh lebih kompleks daripada pengertian a-gama yang berarti sesuatu yang tidak kacau. Ada banyak keharmonisan dialam semesta ini, bahkan banyak pula ajaran-ajaran hasil olah manusia yang tidak mengandung kekacauan didalamnya, tetapi lucunya itu tidak disebut sebagai agama meskipun secara maknawiah sama.
Dien merupakan jalan hidup yang berisikan petunjuk, bimbingan dan tuntunan bagi manusia didalam berproses didunia ini selaku Khalifah Tuhan. Karena itu Dien tidak bisa dilepaskan dari satu titikpun celah kehidupan manusia, baik dalam keadaan beribadah vertikal maupun melakukan tugas fungsionaritasnya sehari-hari termasuk dalam bernegara.
  Seorang pekerja kantoran dia tidak bisa melepaskan Dien saat dia sibuk dengan semua urusan kantornya, seorang artis pun tidak bisa menanggalkan Diennya saat sedang berada dipanggung menghibur masyarakat dan sebagainya dan seterusnya, apapun status sosial kita, pekerjaan kita, pemikiran kita semuanya tidak terlepas dari Dien yang sudah diturunkan oleh Allah.
Itulah kenapa didalam Islam tidak ada pemisahan antara "agama" dengan kehidupan, jika ada ulama atau kyai sampai mengatakan adanya pemisahan antara agama dan kehidupan termasuk bernegara, maka orang itu belum pantas untuk disebut seorang ulama Islam, belum pantas dia dipanggil seorang kyai, karena pengetahuan dan wawasan ke-Islamannya masih teramat sangat dangkal sekali, mungkin juga dia sudah terpengaruh budaya barat yang memisahkan gereja dari kehidupan namun tetap saja ucapannya tidak bisa dibenarkan baik secara logika ataupun dari sudut pandang "agama" itu sendiri.
Saat Dien atau okelah kita sebut saja dengan agama itu mulai dipisah dari kehidupan sosial, maka saat itu juga manusia akan lepas kendali, dia akan berbuat semau-maunya, dia akan korupsi, dia akan menari telanjang, dia akan membunuh, mabuk-mabukan, melakukan seks bebas, menerbitkan majalah Playboy, melegalisasi pornografi plus porno aksi atas nama seni, meledakkan bom dan berbagai tindak kejahatan lainnya, karena dia tidak ada urusan dengan yang namanya agama, baju agama baru dipakai saat ada acara kawinan, sunatan, tahlilan, maulud Nabi, jumatan, lebaran dan seterusnya.
Intinya agama itu bisa diterapkan dalam semua bentuk kehidupan dan semua status sosial serta kenegaraan, sebab agama tidak melulu mengatur bagaimana cara sholat atau bagaimana cara berdzikir, tetapi juga mengatur bagaimana cara bernegara, mengatur masyarakat dan tatanan nilai yang ada didalamnya. Akhirnya, Dien atau agama adalah bersifat menyeluruh, bersifat totalitas, mencakup semua aspek kehidupan, terimalah dia dengan kaffah, wajarlah dalam bersikap, jangan memecah belahnya, itulah esensi Dien yang sangat mendasar setelah Tauhid.
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.( Qs. 2: 208)
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang mau kembali (kepada-Nya) (QS. 42:13)
Dalam kasus pemisahan negara dengan agama yang menurut anda lantas hal ini bisa juga diterapkan didalam Islam padahal Machiavelli (1469-1527) saat ia mengeluarkan teori tersebut disebabkan latar belakang kekacauan yang berkecamuk antara gereja dengan negaranya.
Dibarat , jangankan dengan negara ... agamapun bahkan harus dipisahkan dengan ilmu teknologi modern, sebab memang agama dianggap berkonfrontasi terhadapnya. Setiap keterangan ilmu yang tidak sepaham dengan gereja segera dibatalkan oleh Kepala Gereja. Itulah yang terjadi pada Astronom Nicholaus Copernicus (1507) yang menghidupkan kembali ajaran orang-orang Yunani dijaman purba yang mengatakan bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi sebagaimana ajaran gereja dan tercantum pada Yosua 10:12-13, melainkan bumi yang berputar dan mengedari matahari.

Galileo Gelilei yang membela teori tersebut pada tahun 1633 diancam hukuman bakar seandainya dia tidak mencabut kembali teori tersebut oleh Inkuisisi, yaitu organisasi yang dibentuk oleh gereja Katolik Roma yang menyelidiki ilmu klenik sehingga sikap gereja yang kaku itu telah menimbulkan tuduhan bahwa agama menjadi penghalang bagi kemerdekaan berpikir dan kemajuan ilmu.
Dari keadaan demikian terjadilah berbagai pemberontakan dari dalam. Pada tahun 1517 terjadi reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther sehingga menimbulkan kelompok Protestan.
Pada tahun 1992, yaitu setelah 359 tahun kecaman kepada Galileo dilontarkan oleh pihak gereja, akhirnya gereja Katolik Roma secara resmi mengakui telah melakukan kesalahan terhadap Galileo Gelilei dan Paus Yohanes Paulus II sendiri telah merehabilitasinya.
Rehabilitasi diberikan setelah Paus Paulus menerima hasil studi komisi Akademis Ilmu Pengetahuan Kepausan yang dia bentuk 13 tahun sebelumnya dengan tugas menyelidiki kasus itu. Komisi ini memberitahukan, anggota Inkuisisi yang mengecam Galileo telah berbuat kesalahan. Mereka menetapkan keputusan secara subjektif dan membebankan banyak perasaan sakit pada ilmuwan yang kini dipandang sebagai bapak Fisika Eksperimental itu.
Semuanya ini jika kita mau jujur adalah karena memang kitab yang diyakini suci oleh pihak gereja dan barat itu bukanlah murni wahyu Tuhan lagi, namun bercampur dengan mitos serta intervensi tangan-tangan manusia jahil lainnya sehingga agama dalam kasus mereka memang hanya menimbulkan kekisruhan saja jika disatukan dengan sistem bernegara dan sains modern.
Sejak jaman dahulu ajaran-ajaran pokok agama telah bercampur-aduk dengan keterangan-keterangan tentang mekanisme alam, baik yang bercorak ilmiah rancu [pseudoscientific], mitos maupun yang bersifat legendaris. Intuisi dasar manusia menyatakan bahwa semua kebenaran itu satu dan saling berkaitan satu sama lain karena itu orang mencampur-adukkan semua hal secara sembrono; fakta dicampur-aduk dan dikacaukan begitu saja dengan nilai.
Orang yang meyakini kebenaran suatu agama juga disuruh percaya begitu saja kepada segala macam mitos penciptaan sehingga kebenaran agama tertutup. Sikap menentang para ilmuwan terhadap agama terutama disebabkan oleh adanya perbedaan antara ilmu pengetahuan yang telah teruji mengenai alam dengan mitos-mitos alegorik yang dipaksakan untuk diyakini sebagai [bukti-bukti] kebenaran tertulis mengenai fakta-fakta kosmologis dan historis yang ada.
Fakta bahwa Islam sendiri tidak pernah menuai konfrontasi dengan Sains maupun sistem kenegaraan ... Madinah dijaman pemerintahan Nabi, Abu Bakar dan Umar mungkin bisa kita jadikan parameter sukses pemberlakuan sistem kenegaraan secara Islam.
Jaman keemasan Islam yang berlangsung selama periode Abbasiyah di Baghdad (750-1258) dan Umaiyah di Spanyol (755-1492), tinggal kenangan belaka.
"Pada jaman orang-orang Eropa masih menyelam dalam kebiadaban yang teramat gelap, Baghdad dan Cordova, dua kota raksasa Islam telah menjadi pusat peradaban yang menerangi seluruh dunia dengan cahaya gilang gemilangnya." demikian kata Dr. Gustave Le Bone.
Dalam permulaan abad pertengahan tak satu bangsapun yang lebih besar sumbangannya untuk proses kemajuan manusia selain dari bangsa Arab. Mahasiswa-mahasiswa Arab sudah asyik mempelajari Aristoteles tatkala Karel Agung bersama pembesar-pembesarnya masih asyik belajar menulis namanya. Disekitar abad X, Cordova adalah kota kebudayaan yang ternama di Eropa dengan Konstantinopel dan Baghdad merupakan kota-kota pusat kebudayaan didunia.


Post

Dien DalamPerspektif tafsir Al-qur'an

Bab I
Kata "dien" secara bahasa digunakan dalam berbagai konteks atau uslub dengan banyak makna, seperti ketundukan, ketaatan, kehinaan, menguasai, balasan, agama dan jalan hidup. Kata "dien" secara semantik berkisar pada makna : hubungan korelatif antara dua pihak, jika salah satunya menyerahkan ketundukan dan ketaatan, maka fihak lainnya adalah pemegang otoritas dan kekuasaan. Hubungan yang terjadi antara dua pihak ini diatur dalam prinsip-prinsip berbentuk sekumpulan tataaturan atau sistem yang mengikat.
 
Menurut Dr. Darraz, dalam studi perbandingan agama (muqaranat al-adyaan), kata "dien" selalu dimaksudkan dengan dua keadaan. Pertama, pengalaman personal (état subjectif), berupa ketaatan individu pada Dzat Tuhan, dan kedua, adalah fakta eksternal (al-haqiiqah al-khaarijiyah, faith objectif), berupa sekumpulan prinsip dan aturan mengenai keyakinan dan perilaku yang menjadi agama suatu umat.
Klasifikasi Dr. Darraz ini sesuai dengan keterangan para mufassir terhadap makna "dien" yang digunakan dalam Al-Qur'an. Dalam berbagai konteks penggunaannya, "dien" dalam Al-Qur'an diantaranya memiliki dua makna pokok yaitu syariat (syariah) dan ketaatan (tho'ah). Syariat konotasinya kepada dien sebagai agama yang berisi aturan-aturan Tuhan, sedangkan ketaatan (tho'ah) berarti ketundukan personal seorang manusia kepada Tuhannya.
Ayat berikut menggunakan kata "dien" dengan arti syariat. Allah berfirman,
Sesungguhnya dien (yang diterima) disisi Allah adalah Al-Islam (Q.S. Ali Imran [3]: 19).
Kesimpulan tersebut dapat ditemukan berdasarkan penjelasan para mufassir. Komentar Imam Qatadah tentang ayat ini, "Islam adalah kesaksian tentang keesaan Allah sambil berikrar akan kebenaran apa yang dibawa Muhammad Saw dari Allah. Islam adalah dien Allah, sebagai syariat dari-Nya dan menjadi misi bagi para rasul-Nya..." Imam Qatadah menyebut makna dien dalam ayat ini adalah "syariat Allah yang menjadi misi para Rasul", sedangkan syariat itu sendiri adalah "apa yang dibawa Nabi Muhammad saw. dari Allah". Jelas bahwa syariat adalah dien dengan arti kumpulan sistem ibadah.
Ibnu Katsir menerangkan ayat diatas, "(Ini adalah) berita dari Allah Ta'ala bahwa tiada dien yang Dia terima selain Islam. Sedang Islam adalah ittiba' pada para utusan Allah di setiap masa hingga ditutup oleh Nabi Muhammad saw. Setelah itu, tertutup pula semua jalan-jalan peribadatan kecuali jalan Nabi Muhammad saw. Maka barangsiapa yang bertemu Allah setelah diutusnya Muhamamad saw dengan dien selain dari syariatnya, dia tidak akan diterima…" Serupa dengan Imam Qatadah, Ibnu Katsir menyebut "dien" dengan makna syariat, sedang Islam adalah syariat Muhammad saw.
Makna lebih tegas dapat ditangkap dari tafsir Abu Hayyan. Dalam Al-Bahrul-Muhiith, ketika sampai di ayat ini penulis berkata, "Yakni (makna dari "dien") adalah millah dan syariat". Makna kedua dari "dien" dengan arti ketaatan personal adalah seperti dalam Al-A'raaf ayat 29. Allah berfirman : "Katakanlah, Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil dan (mengatakan) hadapkanlah wajahmu dengan lurus di tiap masjid dan berdoalah dengan mengikhlaskan dien bagi-Nya".
Kata Imam Ath-Thabari, "Beribadahlah untuk Tuhanmu dengan mengikhlaskandien dan ketaatan dan jangan mencampurinya dengan syirik." Ath-Thabari menyandingkan makna "dien" dalam ayat ini dengan ketaatan. Al-Baghawi menyatakan makna "dien" di ayat ini sebagai "ketaatan dan ibadah" Demikian pula Abu Hayyan dalam tafsirnya mengartikan "dien" dengan ketaatan.
Klasifikasi makna "dien" ini sangat berguna dalam menganalisa hubungan antara agama dan perilaku penganutnya dari sudut pandang Al-Qur'an dan tafsir.
Syariat Diniyyah
Ketika menafsirkan kata syariat dalam ayat Al-Maidah 48 Ibnu Katsir mengatakan, "Syariat secara bahasa berarti jalan yang terang menuju sumber air. Kemudian kata ini digunakan untuk menyebut syariat Allah bagi hamba-Nya yaitu dien". Ayat yang dimaksud adalah, "Dan Kami jadikan bagi tiap umat dari antara kamusyir'ah dan minhaj".
Keterangan Ibnu Katsir ini menggambarkan makna syariat adalah aturan yang ditetapkan Allah untuk menuju ridha-Nya. Ini adalah pengertian "syariah" dalam tafsir Al-Qur'an yang juga bisa didapat di berbagai kitab tafsir lain. Dengan pengertian ini, awalnya syariah ditujukan kepada segala sesuatu yang ditetapkan Allah dalam agamanya baik itu masalah ibadah maupun masalah keyakinan (aqidah). Namun dalam perkembangannya, kata "syariah" lebih khusus hanya digunakan sebagai undang-undang Allah mengenai perbuatan manusia (ahkam syar'iyah).
Dalam perbandingan agama, unsur-unsur pokok yang melembagakan agama-agama besar dunia ada empat yaitu tuhan, kitab suci, formalitas peribadatan (thuqus wa marasim) dan sistem keyakinan ('aqa'id). Kepercayaan-kepercayaan lokal mungkin minus kitab suci dan bertahan dengan tradisi oral dan ritual sebagai referensi agama. Tapi unsur selainnya tetap sama.
Empat unsur agama ini intens dibicarakan dalam Al-Qur'an. Konsep Tuhan dalam Al-Qur'an diulas dengan berbagai uslub. Al-Qur'an membicarakan konsep Tuhan sebagai sesembahan (ilah), sebagai sebab penciptaan dan pengaturan alam (rabb) serta Dzat yang memiliki sifat-sifat. Al-Qur'an membicarakan kitab suci sebagai landasan agama yang merupakan firman Tuhan yang membimbing manusia. Juga dibicarakan kitab suci sebagai sasaran manipulasi.
Sistem keyakinan manusia dibicarakan dengan gaya kritik atau bimbingan. Masalah aqidah dalam Al-Qur'an dibicarakan memiliki genealogi dan sistem. Al-Qur'an sering mengajak manusia berfikir logis dan sistematis demi membuktikan kebenaran tauhid dan kebatilan syirik.
Adapun peribadatan formal (thuqus wa marasim diniyyah) adalah tatacara peribadatan yang diatur menurut otoritas ketuhanan. Menurut Al-Qur'an manusia harus patuh pada cara-cara yang ditentukan oleh Tuhan dalam melakukan ketundukan padaNya, bukannya membuat cara ibadah sendiri (bid'ah) dengan sesuka hatinya seperti yang dilakukan oleh musyrikin Arab atau orang-orang Yahudi.
Tuhan adalah pemegang otoritas tertinggi dalam agama yang menyampaikan wahyu, tertulis dalam bentuk kitab suci, berisi sistem keyakinan yang mendeskripsikan gambaran tentang Tuhan dan alam gaib serta tatacara ibadah sebagai media manusia dalam mengekspresikan ketundukannya. Pada kenyataannya, deskripsi Al-Qur'an terhadap agama-agama memang sesuai sebagaimana adanya. Referensi :
• Dr. M. Darraz, Lisaanul Arab.
• Ar-Raghib Al-Ashfahani, Mufradaatul Alfadhil Qur'an.
• Tafsir Ath-Thabari.
• Tafsir Ibnu Katsir.
• Tafsir Al-Bahrul Muhith.
• Tafsir Al-Baghawi.Lanjut Bab II


Post

Dien Dalam Perspektif Tafsir Al-Qur'an

Bab II
Ketaatan Diniyah
Adapun “dien” dalam makna ketaatan berbeda lagi. Ketika dilihat dari sudut pengalaman personal, maka “dien” adalah proses interaksi manusia dengan syariat. Dalam interaksi ini dia melakukan interpretasi dan proses implementasinya nanti dipengaruhi banyak faktor luar dan dalam. Saat itu, dien terpengaruh keadaan-keadaan subyektif dan spesifik seorang hamba. Maka respon manusia terhadap agamapun menjadi saling berbeda tergantung kondisi subyektifnya yang dipengaruhi faktor ilmu, persepsi, karakter, pengalaman, kultur, lingkungan, ras, fisik dan seterusnya. Jadi, proses interpretasi dan pengamalan agama personal sangatlah relatif.
  Maka dari itu, Al-Qur’an menilai ketaatan hamba dalam agama ini perlu diberikan ukuran-ukuran standar. Ukuran dien yang paling baik adalah mukmin dan yang paling buruk adalah kafir. Demikian pula mukmin memiliki tingkatan-tingkatan dan kekufuran dengan derajat berbeda-beda. Tema yang dibicarakan di awal kitab Al-Qur’an adalah klasifikasi manusia menurut penerimaan mereka kepada agama, yaitu golongan mukmin, kafir dan munafiq (Q.S. Al-Baqarah [2] : 1-20). .
Dengan kata lain, implementasi agama sebagai konsep kedalam ruangan fakta tidak mesti selaras. Antara keduanya terbuka pada kesenjangan. .
Antara Syariah dan Ketaatan Melihat struktur syariat yang demikian, maka agama (dalam arti syariat) adalah satu institusi yang eksklusif, tertutup. Semua agama memiliki struktur formal yang permanen meski dalam bentuk yang berbeda-beda. Unsur-unsur agama membakukan kandungannya untuk menjaga dirinya dari penyelewengan. Tiap agama punya ‘tuhan’, kitab suci, sistem keyakinan dan prosedur ibadah yang berbeda-beda. Tapi semua unsur ini fungsinya sama. Tuhan adalah pemegang ororitas tertinggi, kitab suci adalah firman Tuhan rujukan agama, sistem keyakinan adalah deskripsi kepercayaan dan prosedur ibadah merupakan media ekspresi penganut agama. .
Setting agama seperti ini bersifat final, meskipun hal ini secara konsisten baru ada dalam tataran konsep ideal, mengingat dalam perjalanan sejarah, agama-agama (selain Islam) mengalami krisis yang membangkitkan gerakan reformasi teologis. Walaupun begitu, setiap agama tetap memegang konsep orisinalitas sebagai lembaga anti perubahan. .
Makanya, tiap agama selalu menekankan kesalehan pemeluknya dengan cara mengukur sejauh mana ia menerapkan ajaran-ajaran sebagaimana mestinya. Masing-masing agama juga punya konsep kekufuran (heresy). Kekufuran ini diukur melalui tingkat penyelewengan yang dilakukan seorang hamba terhadap kedah-kaedah agama. Demikian pula tiap agama juga memiliki konsep validitas. Dalam Islam persoalan validitas ini berkaitan dengan makna bid'ah. .
Semua agama menetapkan, tatacara ibadah formal harus diresmikan oleh Tuhan sebagai otoritas tertinggi. Meski dalam agama-agama diluar Islam, fungsi ini terlaksana melalui lembaga kerahiban (paus, pendeta, biksu, rabbi dan lainnya) tapi setidaknya lembaga ini menganggap diri mereka adalah wakil atau memiliki otoritas dari Tuhan. Dalam konsep semua agama, tidak mungkin suatu pengalaman personal dinilai sebagai prosedur ibadah agamawi. .
Oleh karena itu, ide liberalis untuk menyerahkan ekspresi beragama — baik dari segi keyakinan maupun tatacara ibadah — menurut cara masing-masing kelompok atau personal tanpa merujuk pada sistem agama, sebenarnya merupakan pemberontakan terhadap agama-agama. Bagaimana mungkin tindakan personal yang sangat subyektif dinilai sebagai ekspresi agamawi yang sah dengan mengabaikan ketentuan agama itu sendiri? Ide ini paradoks dengan konteks agama secara universal, kalau liberalis ingin menganggap ide tersebut relevan buat pemeluk agama. .
Tindakan tersebut tidak ada justifikasi dari agama manapun dan bertentangan dengan substansi dan fungsi agama itu sendiri. Maka tidak jujur kalau ada ide liberal mengatakan bahwa tindakan kebebasan ibadah didukung oleh agama. Apalagi jika disertai klaim landasan liberal ini digali dari dalil-dalil agama. Alasan kebebasan tentu bisa dilakukan oleh semua. Namun kebebasan bukan alasan untuk meninggalkan kejujuran. Terlebih lagi dalam usaha-usaha yang disebut ilmiah. .
Problematika Dien di Luar Islam.
Kedua makna “dien” juga menjadi sorotan Al-Qur’an. Menurut Al-Qur’an, para Rasul yang diutus sebelum Muhammad Saw juga membawa risalah yang bernama Islam. Mereka juga membawa Kitab Suci yang menjadi petunjuk mengenai kehendak Allah pada manusia. Tapi informasi dalam Al-Qur’an rata-rata menyebutkan kaum tempat diutusnya para Rasul kebanyakan ingkar sehingga Allah menurunkan adzab pada mereka. Jikalau diantara kaum itu beriman, biasanya generasi-generasi yang datang kemudian juga ingkar.
Dalam Al-Qur’an nama pemeluk agama yang ada pada saat kedatangan Islam hanya disebutkan empat kelompok, yaitu ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani),musyrikin, Shabi’in dan Majusi (Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. Q.S. Al-Hajj [22] : 17). Ahlul kitab mendasari ajaran mereka pada Kitab Suci peninggalan para nabi, sedangkan pemeluk agama lain mungkin memiliki Kitab Suci, tapi diragukan keterkaitannya dengan para Nabi. Tapi semua agama memiliki tradisi keagamaan oral maupun ritual yang dijadikan referensi.
Al-Qur’an mengkritik kitab-kitab suci atau tradisi keagamaan sebagai referensi yang diemplementasikan oleh para pemeluknya. Menurut Al-Qur’an, referensi agama-agama itu menyesatkan Tahrif terhadap kitab suci menyebabkan doktrin yang dilahirkannya sangat problematik. Sementara tradisi keagamaan yang ada tidak berdasarkan petunjuk Allah melainkan hanya mitos-mitos (asathiir), khayalan serta warisan dari nenek moyang yang sesat " Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk (Q.S. [5] : 104 dan Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya." Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata." (Q.S[21] : 53-54).
Islam juga mempermasalahkan sistem keyakinan di luar Islam mengenai hakekat Tuhan. Menurut Al-Qur'an, sesembahan mereka tidak berfungsi sebagai Tuhan yang sesungguhnya karena penuh dengan ketidakberdayaan). Sesembahan-sesembahan ini menjadi tuhan semata-mata karena disembah (ma’bud), bukan karena mereka memang pantas untuk disembah (ma’bud bi haqq). Mereka bukan Tuhan, bahkan mereka adalah makhluk biasa seperti yang lain. Sesembahan-sesembahan itu tidak sanggup menjawab permintaan para penyembah, mendatangkan mudharat ataupun manfaat
“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.(Q.S. [5] : 45-46).
Penyembahan terhadap mereka dinilai Al-Qur’an sebagai sia-sia, kebodohan, kebutaaan hati dan kezaliman yang nyata “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Q.S. [31] : 13)dan “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.(Q.S [22] : 46). Maka dari itu, sebagai syariat, dien diluar Islam dinilai Al-Qur’an “bukan agama yang benar”, “bukan agama Allah”, “tidak diterima” dan “membuat pemeluknya rugi di akhirat” Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S. [3] : 85 )
Kritik terhadap pemeluk agama di luar Islam juga berlangsung kepada dua umat, yaitu umat sebelum kedatangan Islam dan sesudah kedatangan Islam. Kepada umat sebelum Islam, Al-Qur’an banyak bercerita tentang keadaan para pengingkar agama Allah yang dibawa para Rasul. Al-Qur’an juga menceritakan keadaan umat-umat yang menjadi murtad dan kafir setelah ditinggal oleh Nabinya. Bahkan kekafiran ini semakin lama berubah menjadi sistem dan terlembagakan melalui institusi keagamaan. Al-Qur’an membuktikan pelembagaan kekufuran ini dengan adanya institusi keagamaan yang melakukan tahrif (pemalsuan) terhadap Kitab Suci “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Q.S. [9] : 31)
dan menyembunyikan firman Allah yang benar (kitmanul haq) Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan (Q.S. [5] : 15), sehingga dikenal saat itu adanya kitab-kitab rahasia (asfaar sirriyah). Juga insitusi kerahiban yang membuat undang-undang palsu atas nama Tuhan . Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan.(Q.S [2] 79)
Adapun kepada umat sesudah Islam, Al-Qur’an mengecam tindakan manusia yang menolak kebenaran Islam yang menurut Al-Qur’an telah datang dengan segala bukti nyata “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus (Q.S. [98] : 1-3).
Menurut Al-Qur’an, penolakan manusia terhadap Islam tidak beralasan karena Rasul yang membawa agama ini telah menunjukkan mukjizat yang tak terbantahkan. Khusus kepada pemeluk agama yang punya Kitab Suci, menurut Al-Qur’an, keimanan pada Muhammad saw. justru bagian dari perintah kitab suci itu, sehingga penolakan mereka terhadap Muhammad bertentangan dengan ajaran mereka sendiri” Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka, Diantara mereka ada golongan yang pertengahan Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka, Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Q.S. [5] : 66-67). Allah mencela pengingkaran ahlul kitab pada Muhammad yang kenabiannya jelas-jelas telah disebutkan dalam Kitab Suci mereka” Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Q.S. [2] : 146). Al-Qur’an mengkritik motif yang melandasi penolakan manusia pada Islam, yaitu ketakaburan, pengingkaran kepada kebenaran dan mengikuti hawa nafsu :
karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu[1261]. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu (Q.S. [35] : 43)
Katakanlah: "Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy,Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. (Q.S [17] : 42-43)
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, (Q.S [19] : 59),
Dan “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil[203], dan menyembunyikan kebenaran,padahal kamu mengetahuinya (Q.S [3] : 71). Takabbur maknanya adalah sikap menganggap diri sendiri lebih tinggi ('uluw, isti'laa') disertai rasa merendahkan dan menghina orang lain yaitu para pembawa kebenaran dan para pendukungnya. Jadi, sikap penolakan terhadap Islam dinilai tidak berdasarkan alasan logis, melainkan karena egoisme semata. Maka dari itu, Al-Qur’an tidak ragu menyatakan kekufuran manusia yang mengingkari Islam baik itu ahlul kitabmaupun kaum musyrikin: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus, Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Q.S. [98] : 5-6).
Kesimpulannya, keadaan dien di luar Islam baik sebagai syariat atau pengamalan keduanya sangat problematik. Syariat telah mengalami manipulasi sehingga sulit menemukan unsur aslinya. Demikian pula, tradisi keagamaan masyarakat sarat dengan mitos. Para penyembah kehilangan tuntunan yang benar dan berada di luar jalan Allah karena mereka terhalang untuk mendapatkan petunjuk yang benar dari referensi agama mereka.
Referensi :
• Syahrastani, Al-Milal wa An-Nihal.
• Ali Abdul Wahid Wafi, Asfaar Muqaddasah. Lanjut Bab III


Post

Dien Dalam Perspektif Tafsir Al-Qur'an

Bab III
Menurut Al-Qur’an, Islam adalah nama bagi syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Allah dalam Al-Qur’an menyatakan kitab ini sebagai Kitab Suci dien tersebut. Namun, Al-Qur’an juga menyatakan referensi kedua yang merupakan turunan dari Al-Qur’an itu sendiri, yaitu tradisi Nabi Muhammad saw yang disebut al-hadits “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. “(Q.S. [59] : 7). Nama Allah adalah nama absolut ('alam) (Q.S. [112]). Berdasarkan Al-Qur’an dan hadits, sistem keyakinan dan formal ibadah dalam Islam disusun.
Berkenaan dengan otoritas tertinggi, Allah adalah Tuhan yang menjadi sumber agama
 melalui wahyu yang dituangkan dalam Al-Qur’an atau diajarkan pada Nabi-Nya, Muhammad saw. Islam membedakan jelas kedudukan Tuhan dan Rasul. Rasul adalah manusia biasa “Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca." Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (Q.S. [17] : 93), bukan pembuat agama “Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya“(Q.S. [69] : 44-46), tapi bertugas memanifestasikan kehendak Allah dalam perbuatan dan tuturkata” dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya, Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (Q.S. [53] : 3-4). Posisi Rasul sebagai sumber hukum adalah posisi secara teknis, adapun hakikatnya Allah adalah sumber hukum yang menurunkan firman atau agama-Nya melalui Rasul.
Dalam Islam, kedudukan dan otoritas Rasul Muhammad saw sebagai penerima wahyu dan legislator agama tidak tergantikan” Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S. [33] : 40). Oleh karena itu Islam tidak mengenal persona atau institusi ketuhanan yang mengaku punya otoritas dan mengatasnamakan Allah. Pengikut Rasul hanya menggantikan tugas beliau sebagai pelaksana dan penyebar (da’i) terhadap risalah Allah.
Oleh karena itu dalam Islam ada istilah syari’ dan faqih. Syari’ (legislator) adalah sumber agama yang hanya terdiri dari dua pihak, yaitu Allah dan Rasul-Nya. Sementara manusia yang menerima risalah, berfungsi sebagai faqih, artinya faham, yaitu pihak yang memahami risalah Allah yang diturunkan pada manusia. Faqih ini bisa disebut ulama atau mujtahid. Oleh karena itu, julukan yang diberikan pada para ahli fiqih, yaitu orang yang menggeluti hukum Allah, adalahfuqaha’. Contohnya adalah fuqaha’ sab’ah; generasi murid shahabat (tabi’in) di Madinah yang mumpuni dalam fiqih Islam.
Sebutan "dien" bagi Islam dalam Al-Qur’an diiringi dengan beberapa sifat yaitu "agama yang lurus", "agama yang murni", agama yang benar, "agama disisi Allah", agama yang diterima", "agama Allah", serta "agama yang sempurna, diridhai
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” “(Q.S. [48] : 28)
" Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitabkecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” “(Q.S. [3] : 19).
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. “(Q.S. [39] : 3)
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Q.S. [3] : 83)
Al-Qur’an menegaskan tiga sifat Islam sebagai dien.:
Pertama, otentik dan valid dengan penjagaan dari Allah “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya “(Q.S. [15] : 9).
Kedua, sempurna dari kesalahan: “Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (Q.S. [41] : 42) “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (Q.S. [9] : 29).
Ketiga, , satu-satunya jalan keselamatan” Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Q.S. [3] : 85).
Tiga sifat ini dikukuhkan sebagai jawaban atas kebutuhan manusia pada tuntunan hidup. Orisinalitas Islam meletakkan dien ini steril dari upaya-upaya distorsi-manipulasi sebagaimana agama-agama sebelumnya. Kesempurnaan Islam, bukan hanya berarti Islam adalah agama yang benar, tapi berarti kebenaran Islam bersifat unggul (ultimate). Kalau ada sistem lain yang punya kebenaran, dari banyak segi Islam akan lebih baik lagi. Kesempurnaan ini juga berarti Islam telah melalui proses kelayakan sejarah, dimana konsep Islam pernah mengalami implementasi dan menghasilkan bentuk kehidupan yang sesungguhnya dicari oleh semua manusia. Kesempurnaan Islam juga bermakna Islam adalah dien minus cacat, tidak butuh koreksi, reformasi, dan tidak akan ditemukan kesalahannya meskipun dengan usaha yang paling serius.
Islam sebagai jalan keselamatan tunggal berarti dien ini harus diterima oleh semua manusia yang menginginkan keselamatan. Dien ini harus diserukan kepada semua orang. Dien ini juga menjadi standar untuk mengukur kebenaran bagi nilai apapun yang ditemukan dimuka bumi.
Sebagai klimaks dari prestasi Islam, Allah menyebutkan dien ini diridhai, menurut firman-Nya:, “Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan aku telah genapkan nikmatKu atasmu dan Akupun rela Islam menjadi dien untukmu”. ( Q.S. Al-Maidah:3 )Dalam Islam, ridha Allah adalah tujuan hidup paling utama (ultimate goal), dimana ridha merupakan pernyataan kesesuaian antara fakta dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian ridha Allah pada Islam merupakan rekomendasi terhadap dien ini sebagai syariat bagi manusia dalam mencapai tujuan hidup yang dia cari. .
Sementara penganut dien Islam itu disebut muslim. Menurut Al-Qur’an, semua manusia memiliki kesempatan terbuka untuk memeluk Islam dan mengamalkan agama ini sesuai dengan kehendak Allah. Kesempurnaan Islam menjadikan dienini bisa berintegrasi dengan sempurna dalam wujud ketaatan seorang hamba. Integrasi antara syariat dan ketaatan disebut amal saleh, yaitu suatu amalan yang memenuhi dua kriteria ; kesesuaian dengan ketentuan Allah dan dilandasi keikhlasan. .
Dalam konteks personal, integrasi antara iman dan amal (syariat dan ketaatan) digambarkan oleh Allah dalam surah Al-Bayyinah. Dalam surah ini Allah membandingkan ketaatan yang dilakukan oleh ahlul kitab dan musyrikin disatu sisi dengan ketaatan seorang mu’min. Menurut Allah, ahlul kitab dan musyrikinadalah kafir dan mendapat balasan neraka, sementara mu’min adalah diridhai Allah dan mendapat balasan surga. Tak hanya dalam konteks personal, menurut Al-Qur’an, integrasi antara iman dan amal ini juga mewujud dalam konteks masyarakat. Dalam surah At-Taubah, Allah menyatakan bahwa golonganmuhajirin dan anshar yang membentuk komunitas masyarakat dan negara di Madinah, telah mencapai keadaan “diridhai Allah dan Allah-pun ridha pada mereka”. .
Ini berarti bahwa impementasi ideal terhadap ajaran Islam bukan ada dalam imajinasi layaknya konsep hidup di luar Islam yang selalu mencari model implementasi ideal. Konsep-konsep ini akhirnya hanya bertahan sebagai eksperimen tanpa menemukan ruangan nyata bagi ide-idenya. .
Oleh karena itu, para shahabat ditempatkan dalam peringkat pertama sebagai sumber dalam memahami syariat. Dalam kaidah tafsir dikatakan, “Penafsiran shahabat Nabi, lebih diutamakan daripada yang lainnya”. Rasulullah saw. memerintahkan untuk meneladani para shahabat dalam menjalankan agama. .
Adapun dien Islam, sejak diawal sudah menampilkan satu harmoni yang mengambarkan keselarasan antara konsep dan realita. Karakter dari sumber agama Islam jauh dari kepelikan-kepelikan seumpama premis filsafat atau kebuntuan makna dalam kitab-kitab suci yang telah terkorupsi (corrupted scriptures). .
Muslim dengan seksama dan mudah dapat menemukan referensi terhadap semua persoalan hidupnya. Mulai dari persoalan kemasyarakatan seperti ekonomi, politik, negara, parlemen, perbankan, hingga masalah yang sangat privat seperti tata cara mencuci najis sehabis buang air kecil (istinja’). Semua rambu-rambu, simbol, metode, tata cara, hukum-hukum, keyakinan dan juklak diatur dalam bab-bab dengan sistematis pada kitab-kitab hadits dan fiqih. .
Lagi-lagi ide liberal mengalami kebuntuan tatkala berhadapan dengan dien Islam. Tudingan hermeneutis yang mempersoalkan kesenjangan antara kata dan makna, semisal anggapan kemustahilan untuk menemukan kebenaran hakiki saat menafsirkan Al-Qur’an, dengan sendirinya terbantahkan.
Al-Qur’an telah merekomendasikan kehakikian Islam sebagai dien dalam arti syariat dan dien dalam arti kemungkinan implementasinya dalam wujud ketaatan personal maupun masyarakat. Ini artinya proses ketepatan pengamalan Islam yang berangkat dari penafsiran terhadap nash sangatlah terjamin. Allah menjaga Al-Qur’an baik sebagai rasm (scripture), sebagai mushaf (canon), sebagai bacaan (recitation), maupun sebagai ajaran yang mengandung makna-makna (meanings). Allah berfirman,:
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya “Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. “Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Q.S. Al-Qiyaamah [75] : 17-19)
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Q.S. Al-Hijr [15] : 9).
Rekomendasi Al-Qur’an ini dirinci dalam sistematika disiplin ilmu yang menjaga orisinalitas teks dari pemalsuan, dan orisinalitas makna teks dari penafsiran yangbathil. Maka dalam disiplin ilmu Islam, kita akan menemukan dua jenis ilmu pemelihara, yang satu mengarahkan kerjanya pada penjagaan orisinalitas teks, yaitu ilmu hadits, dan ilmu riwayat yang diarahkan pada penjagaan terhadap keaslian makna teks yaitu ilmu ushul fiqih dan ilmu tafsir.
Benturan liberal terhadap dua jenis disiplin ini begitu memutus-asakan mereka sehingga sampai saat ini tidak ditemukan satupun metodologi yang sanggup menandingi kecanggihan apalagi menggugurkan dua genre disiplin ini. Jikalau eksperimen orientalisme dinilai sebagai gerakan resmi telah muncul pada abad kesepuluh di masa Paus Sylvester II, berarti saat ini sudah 1000 tahun kegiatan dekonstruksi terhadap Islam itu berlangsung. Sepanjang masa ini, dapat dinilai usaha-usaha orientalisme telah gagal meskipun ditopang dengan kerja yang sangat sistematis, serius dengan skill yang sangat tinggi. Maka, anak-anak muda liberal yang baru belajar pada orientalisme itu, rasanya lebih pantas untuk diragukan.
Referensi :
• Tafsir Ath-Thabari.
• Fathul Bayan.
• Khalid Utsman as-Sabt, Qawaidut-Tafsir.
• Dr. Muhammad Fathullah Az-Zayyadi, Al-Istisyraq.
• Dr. Abdurrahman al-Badawi, Mausu’atul Mustasyriqin.


Translate

© Copyright 2013 ujan tampear powered by Blogger |